Antara Bell's Palsy dan Karma

Bells Palsy
Sumber :

Ternyata tidak. Dua hari berlalu muka saya masih mulus seperti sedia kala. Menurut dokter yang memeriksa teman saya, John terkena Bell's Palsy gara-gara dia terlalu sering pulang malam. Terus dia enggak pakai helm full face sehingga ada virus yang menyerang saraf dia dan hasilnya ya itu tadi, mukanya jadi mencong ke kiri dan matanya tidak bisa menutup. "Besok deh kalau mau ketemuan ya, habis gue pulang gawe.” Isi BBM dia ke saya.

img_title Ramadan Kali Ini Tak Seindah Ramadan Tahun-tahun yang Lalu

Saya pun bercerita ke mama saya tentang si John dan mama langsung wanti wanti, "Jangan sampai ngetawain atau diejek-ejek ya. Bisa-bisa kamu yang kena!". Saya pun sudah memantapkan diri, kalau besok saya ketemu dia, saya enggak akan ketawa dan enggak akan mengejek. Saya akan bersikap profesional dan menganggap semua biasa saja. Ya, biasa saja seolah tidak ada apa-apa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sekarang saya sedang berada di sebuah coffe shop menunggu John, sepertinya dia datang terlambat. Tidak berapa lama, dia pun datang. Dan dari jauh saya melihat dia, saya benar-benar tidak bisa menahan tertawa. Mukanya lebih mencong dari yang saya kira. Bibirnya menjorok ke kiri terus matanya melotot gara-gara enggak bisa merem.

img_title Kisah Seorang Istri tentang Suaminya Pecandu Ganja

Saya sebisa mungkin bersikap cool, sesuai janji ke mama saya. "Hai John," saya menyapanya seolah tidak ada apa-apa. "Ini semua gara-gara loe. Gue doain loe juga kena!" kata dia sambil menunjuk mukanya. Gara-gara dia bilang begitu tawa saya langsung pecah, hahahahahahaha. Aduh, saya benar-benar tidak bisa menahan. “Gila loe John. Pede tingkat dewa. Jalan ke sini gak pake masker, pede amat loe diliatin orang-orang. hahahahahaha."

Lagi asyik-asyiknya bercerita, datang pelayan restoran membawa daftar menu. Awal pas dia datang, dia biasa saja. Tapi pas dia melihat wajah John, muka dia langsung berubah. Dari yang biasa saja berubah menjadi seperti orang habis kontraksi. Setelah puas ngetawain dia dan cerita-cerita, akhirnya saya pamit pulang.

img_title Keseruan Sahur di Mess Awak Kereta Parung Panjang

Di kamar, saya baru kepikiran ucapan mama soal karma kalau saya ngetawain dia. Omongan mama kadang ada benarnya dan itu bikin saya takut juga. Bagaimana kalau ternyata pas besok saya bangun pagi, muka saya jadi mencong ke atas? Saya buang jauh-jauh pikiran kotor itu dan mulai memejamkan mata buat tidur.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut