Biaya Masuk ke Perguruan Tinggi Makin Mahal
- U-Report
Namun, ada saja kendala yang mereka temui, yaitu tingginya biaya SPP per bulan di perguruan tinggi swasta tersebut sehingga pada akhirnya banyak juga siswa yang memilih untuk tidak kuliah karena ekonomi keluarga yang terbilang kurang mampu untuk bisa melanjutkan pendidikannya. Bahkan ada yang sampai putus kuliah karena kehabisan dana di tengah perjalanan kuliahnya.
Pada umumnya, ketika kita membandingkan antara biaya untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ataupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) itu tidak jauh berbeda. Jumlah biaya yang dikeluarkan baik itu mulai masuk sampai lulus kuliah, walaupun terdapat selisih tapi perbedaannya hanya sedikit sekali. Sehingga banyak kalangan masyarakat yang memperdebatkan antara perbedaan biaya ini.
Terkadang ada yang sebagian orang berpendapat bahwa masuk ke Perguruan Tinggi Negeri itu lebih murah dari pada masuk ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS) karena hanya biaya awalnya saja yang mahal dan biaya per semesternya itu lebih murah dibandingkan PTS. Tetapi di sisi lain juga ada sebagian orang yang mengatakan bahwa PTS itu lebih murah dibandingkan PTN, karena biaya awal masuk lebih murah dan biaya per bulan jika di hitung-hitung juga tidak begitu jauh selisihnya dibandingkan biaya SPP per semester pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN).
Selain biaya mungkin juga banyak yang membandingkan antara kualitas PTN dan PTS, tapi pada akhirnya yang menentukan kualitas itu adalah mahasiswanya sendiri. Sangat disayangkan bagi para siswa yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi tetapi tidak dapat mewujudkannya karena terkendala oleh biaya.
Mungkin ketika impian mereka untuk masuk perguruan tinggi tidak terwujud maka alternatif satu-satunya yaitu mencari pekerjaan. Tetapi semakin hari peluang atau lapangan kerja di negeri ini terasa semakin sempit. Semakin banyaknya jumlah permintaan akan pekerjaan, menyebabkan semakin bertambahnya jumlah pengangguran. Dampaknya tidak sedikit dari warga negeri kita yang merantau ke luar negeri untuk menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia).
Melihat semakin tingginya biaya ini, saya hanya bertanya-tanya dalam benak saya tentang bagaimanakah cara pemerintah untuk mewujudkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas? Sedangkan tingginya biaya pendidikan ke jenjang universitas menjadi kendala bagi siswa kurang mampu untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Apakah akan selamanya bangsa ini menjadi bangsa yang tertindas? (Tulisan ini dikirim oleh Basori Alwi, Surabaya)