Terima Kasih Kakak
- U-Report
Kami mampir di warung kecil untuk membeli dua buah roti dan dua minuman kemasan air mineral yang harganya seribuan. Kami membeli makanan seadanya saja untuk mengganjal perut dan sisa kembaliannya kami pakai buat makan besok. Setelah menghabiskan satu roti dan segelas minuman kami berjalan lagi. Kami tidak tahu harus kemana. Hanya bejalan dengan tujuan yang buta. Di jalan aku beberapa kali bertanya kepada kakak, "Kak, kita mau kemana?" Kakak tidak mampu bilang apa-apa hanya mengelus-elus pundakku saja.
Tiba-tiba di jalan kami bertemu seorang pemulung. Dia bertanya kami mau ke mana dan kakak bilang, "Saya tidak tahu mau kemana Pak." Pemulung itu merasa bingung dengan jawaban yang diucapkan kakak, lalu diam menatap kami dan mengajak ngobrol. Kami bercerita tentang masalah kami, setelah itu dia mengajak kami untuk beristirahat di gubuknya.
Tiap hari kakak ikut memulung bersama dia, dan aku cuma diam di gubuk itu sambil menunggu kakak datang membawa makanan. Hasil dari kakak memulung bisa menghidupi kami untuk makan setiap hari. Malah kadang ada lebih buat ditabung. kakak berjanji mau memasukan aku ke sekolah lagi. Hingga akhirnya aku bisa lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Kakak pun berencana mau melanjutkan aku ke SMA, dan aku berjanji setelah lulus SMA nanti mau mencari pekerjaan untuk meringankan beban kakak yang selama ini sudah berjuang demi aku. Supaya aku bisa mengubah hidup dan menjadi orang sukses kelak, itu harapan kakak dan aku.
Kakak sudah mendaftarkan aku ke salah satu sekolah di Jakarta. Walaupun tidak terlalu favorit, tapi lumayan dan untuk bisa masuk ke sekolah itu sudah Alhamdulillah banget bagi aku. Tempat duduk aku di paling depan, satu bangku dengan seorang gadis lugu. Dia baik orangnya, dan akhirnya kami saling jatuh cinta dan pacaran.
Sejak semester pertama kakak sering sakit-sakitan. Aku tidak tahu apa penyakit kakak. Setelah mau lulus dari SMA, aku baru tahu kalau ternyata kakak banyak hutang. Kakak berhutang buat biaya aku sekolah. Hasil uang kakak memulung tidak cukup untuk membiayai sekolahku yang lumayan besar. Karena takut aku putus dari sekolah, akhirnya kakak mengambil jalan pintas bekerja sampingan sebagai kurir obat-obatan terlarang. Semua dilakukannya untuk bisa mencukupi biaya sekolah aku dan untuk membayar hutang.