Tiga Dimensi Waktu
Sama seperti kategori pertama, orang kategori kedua ini juga punya seorang guru kebijaksanaan yang bernama Aristipos. Sang guru mengajarkan kalau kenikmatan adalah kebahagiaan tertinggi. Atas ajaran ini para pengikut Epikurus menginterpretasikannya dengan adagium yaitu makan, minum, dan bersenang-senanglah karena besok kita akan mati (bisa jadi ini cikal bakal hedonisme). Semesta sama sekali tidak mempunyai makna dan tujuan. Yang terpenting adalah mengejar kenikmatan tanpa peduli pada tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang manusia yang bermartabat dan bernilai luhur.
Kategori ketiga adalah orang yang selalu bernostalgia, bernapak tilas dengan pengalaman masa lalunya dengan segala keindahannya tanpa mau berusaha lagi di masa sekarang dan mengejar masa depannya. Orang seperti ini senang sekali dengan acara-acara reuni. Model manusia seperti ini akan selalu bangga dengan kejayaan masa lampau, dengan kebanggan para pendahulu dan leluhur tercinta. Seperti kala Negara Indonesia yang sampai sekarang bangga dengan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya yang pernah menguasai Asia Tenggara.
Orang-orang sepeti ini patuh buta terhadap pesan bapak, kakek, dan nenek dulu, “Pengalaman adalah guru yang paling bijaksana.” Bila ditilik dari segi esensi rasa, orang-orang pada kategori ini biasanya adalah perempuan (maaf untuk para aktivis perempuan). Bagaimana tidak, dalam hal relasi, esensi rasa perempuan adalah terlalu lama mengingat (mengenang) dan esensi rasa laki-laki adalah terlalu cepat melupakan.
Akan butuh waktu yang cukup lama bagi seorang perempuan untuk mendapatkan pasangan baru lagi bila ia sudah putus dengan pasangan sebelumnya. Karena memorinya dengan sang mantan terlalu lama berlarut-larut tenggelam dalam benaknya. Sedangkan bagi laki-laki, mudah sekali untuknya mendapatkan pasangan baru lagi karena menurutnya sang mantan sudah jadi milik orang lain (mungkin ini bisa jadi alasan mengapa janda lebih banyak daripada duda). Lalu, kita termasuk tipe orang dalam kategori apa? Mungkin, yang terbaik adalah menyeimbangkan ketiga dimensi waktu tersebut secara konsisten. (Tulisan ini dikirim oleh Ricko W, Maumere, Nusa Tenggara Timur)