Dari Pekanbaru Menuju Seluruh Indonesia

Ilustrasi pria.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Besar di tanah melayu dengan darah Jawa-Melayu, aku hidup dengan melewati berbagai macam rintangan untuk meraih sebuah kesuksesan. Aku selama ini dibesarkan di keluarga yang sederhana, tidak kaya, tidak berada, namun cukup dikenal di lingkungan sekitar oleh para tetangga.

Wahai Orang yang Tidak Berpuasa, Hormatilah Bulan Ramadan

Orang-orang mengenalku sebagai sosok yang ramah-tamah, baik, suka menolong, dan rajin. Tapi ada beberapa orang yang mengenalku sebagai sosok yang jahat, tidak baik, tidak mau menolong, dan pemalas. Mereka adalah sekumpulan pemuda atau anak muda yang seumuran denganku juga. Entah mengapa mereka tidak menyukai keberadaanku sebagai pemuda yang aktif di lingkungan sekitar. Mereka selalu saja melontarkan beberapa cacian, makian, dan hinaan padaku dengan sebutan ‘Andika Kangen Band’, ‘Kim So Young’, ‘Boy Band’, ‘Naruto’, dan lain-lainnya.

Aku tidak mengerti apa mau mereka dan apa maksud mereka mengatai aku seperti itu. Dikata-katai, dihina, diejek, dicaci maki seperti itu pun aku tidaklah marah. Cukup dibalas dengan senyum ataupun dibalas dengan kata “Oh, ada apa?” cukup itu saja. Aku sadar, semakin aku melawan aku akan semakin dipojokkan dengan berbagai perlakuan mereka padaku. Cacian, makian dan ejekan akan semakin bertambah.

Jadi Dewa Mabuk Sehari

Tidak ada sejarahnya 10 akan kalah melawan 1, karena 10 pasti akan menang melawan 1. Kecuali andaikan aku adalah Saitama, mungkin aku bisa mengalahkan mereka hanya dengan satu kali pukulan saja. Mungkin mereka belum pernah merasakan bagaimana rasanya dikucilkan oleh orang-orang dan diejek-ejek dengan maksud dan kata-kata yang tidak mereka mengerti.

Jika menjadi aku, mungkin mereka akan melawan, mengadu kepada orang tua mereka dan mungkin bisa saja mereka langsung berpikir kalau suatu saat mereka akan membunuh orang yang mengejeknya, pasti. Namun aku bukanlah tipe orang yang pendendam seperti itu. Percuma dendam, karena kalau suatu saat dendam itu tidak terlaksana, ujung-ujungnya aku juga yang nantinya bisa jadi gila.

Ramadan sebagai Rekonstruktor Social Behavior

Keluargaku pun juga ada yang seperti mereka. Salah satu dari mereka ingin aku sukses dan suatu saat mereka ingin aku menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil atau PNS. Menjadi PNS? Aku tidak ingin. Aku lebih ingin menjadi penulis daripada PNS. Disuruh menjadi PNS, aku hanya diam. Aku tidak ingin menjadi PNS karena itu memang bukanlah impianku.

Yang memintaku untuk menjadi seorang PNS merupakan salah satu anggota keluargaku juga, yaitu om-ku. Dia memiliki sifat pemaksa, tidak mau mendengarkan pendapat orang-orang, tapi hanya mementingkan kepentingan dan pemikirannya sendiri. Egois dan keras kepala, lebih tepatnya. Seumur hidup, aku tidak pernah mendapatkan pujian atas apa yang telah aku capai. Padahal aku telah mengikuti kemauan orang tua dan keluargaku, tapi entah kenapa mereka tidak pernah memujiku.

Menjadi tipikal seseorang yang bergolongan darah O, aku merupakan orang yang ingin dipuji, walaupun banyak orang yang mengatakan kalau pujian bukanlah segalanya. Untuk membuat mereka senang akan kehadiranku, mengakui keberadaanku, kehebatanku dan kejeniusanku, itulah yang membuat aku ingin sukses.

Aku ingin dikenal banyak orang sebagai orang yang gigih, selalu berusaha, dan giat dalam bekerja dan berusaha. Walaupun sebenarnya aku adalah orang yang pemalas sejak aku duduk di bangku SMK kelas 2.

Dari Kota Pekanbaru ini, aku ingin menuju ke seluruh Indonesia, bahkan ke seluruh dunia. Prinsipku adalah di mana ada niat, usaha, dan perjuangan, pasti nantinya akan ada jalan untuk meraih semua itu. (Cerita ini dikirim oleh Ridhoadhaarie)

Hari pertama saat berlangsungnya Mubes HIMSI UMI, Makassar.

Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Sastra Inggris UMI

Acara besar ini akan berlangsung selama dua hari.

img_title
VIVA.co.id
15 Juni 2016