Tiga Serangkai Akan Terus Hidup
- U-Report
Hasanul yang masih tetap saja suka jaim alias jaga image. Imam yang terkadang bisa saja mencari topik pembicaraan jika sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, dan aku yang hanya ikut-ikutan saja apa yang mereka bicarakan. Berkumpul bersama mereka lagi membuat aku sadar dimana aku seharusnya berada. Mereka yang sudah menjadi mahasiswa yang sesungguhnya, sedangkan aku yang sudah gagal menjadi seorang mahasiswa. Mereka yang sudah akan memasuki semester 4 dan 6, sedangkan aku yang masih begini-begini saja, hanya sibuk menulis, menulis dan menulis.
Namun aku masih bersyukur ternyata mereka masih menghargai aku yang bukan siapa-siapa ini. Mereka mendukungku untuk sukses dalam dunia menulis. Hingga pada akhirnya kami pun juga bisa berkumpul lagi seperti Ramadan tahun lalu. Ini merupakan buka bersamaku untuk pertama dan terakhir di tahun ini.Aku sudah merasa bangga dengan diriku sendiri.
Malamnya kami pun pergi takbiran berkeliling dan dilanjutkan dengan makan bersama di masjid tempat kami dulu masih menjadi remaja masjid. Dengan uang Rp23.000 saja, kami sudah bisa merasakan apa yang disebut dengan berkumpul yang sebenarnya. Kami yakin, persahabatan yang sudah kami jalin yang diberi nama “3 Serangkai” ini akan terus terjalin hingga waktu yang memisahkan kami. (Cerita ini dikirim oleh Ridho Adha Aire)