Kaum Nazar Bhe-kun dan Perayaan Kuda Sam Poo di Semarang

Bhe-kun siap-siap ikut arak-arakan Kuda Sampo.
Sumber :

img_title Asuransi Fleksibel Jadi Alternatif Perlindungan Sesuai Kebutuhan Konsumen

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Duplikat Kim-sien
img_title Malaysia Tetap Tuntut Indonesia soal Kabut Asap, Meski Akui Hubungan Baik Kedua Negara


img_title Wardatina Mawa Ungkap Kelanjutan Kasus Dugaan Perzinaan Insanul Fahmi dan Inara Rusli: Sebentar Lagi Gelar Perkara
Perayaan Sam Poo adalah memperingati kebebasan Kelenteng Sam Poo Khong, sekaligus mengenang jejak kedatangan Sam Poo Thay Jien atau Sam Poo Khong atau Laksamana Cheng-Ho di Simongan-Semarang, abad empat belas silam. Laks Cheng-ho utusan Kaisar Tiongkok, Yung-le, memimpin tujuh kali muhibah pelayaran diberbagai negara dikawasan Samudra Selatan dan Samudra Hindia, mulai tahun 1405. Muhibah pelayaran ini singgah di beberapa pelabuhan, sepanjang Laut Jawa Utara; Di antaranya di Pantai Simongan-Semarang yang kini jadi Kelenteng Sam Poo Khong.

Saat turun dari Jung, kapal layar besar khas Tiongkok, ketika mendarat di Pantai Simongan-Semarang, Laks.Cheng-Ho menunggang kuda. Peristiwa itu yang dikenang warga Tionghoa Semarang. Diwujudkan dalam bentuk Kuda Sampo pada arak-arakan Perayaan Sam Poo setiap tahun hingga sekarang. Para Bhe-kun yang mengawal Kuda Sampo, merupakan refleksi dari pengorbanan dan loyalitas seseorang pada pemimpin, panutan, dan junjungannya.

Pada tahun 1700-an, kawasan Simongan Semarang di lokasi Kelenteng Sam Poo Khong, dikuasai tuan tanah etnis Yahudi. Warga Cina yang bersembahyang di kelenteng itu, ditarik cukai/pajak/ticket tinggi oleh Si Yahudi. Karena tak kuat membayar pajak, masyarakat Cina Semarang lalu membangun duplikat Kelenteng Sam Poo Khong, lengkap dengan tiruan Kim-sien (patung suci) Sam Poo Thay Jien, berlokasi si Gang Lombok, Semarang-Tengah.

Seorang tai-pan yaitu Oei Tjie Sien, ayah dari Oei Tiong Ham Raja Gula Indonesia, berhasil membeli kawasan Simongan dan lokasi Kelenteng Sam Poo Khong dari orang Yahudi tahun 1879. Sejak itu (hingga sekarang), warga Tionghoa kembali dengan bebas bersembahyang di Kelenteng Simongan tersebut. Untuk mengenang kebebasan Kelenteng Sam Poo Khong dan duplikatnya, Kelenteng Thay Kak Sie; Setiap tahun dilaksanakan Perayaan Sam Poo (Thay Jien).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Perayaan ditandai arak-arakan. Pagi buta, duplikat Kim-sien Sam Poo Thay Djien dan semua atribut kebesarannya, keluar dari Kelenteng Thay Kak Sie, diarak menuju Kelenteng Sam Poo Khong. Di Kelenteng Sam Poo Khong diadakan prosesi ritual. Tiga sendok abu hio-loo dari Kelenteng Thay Kak Sie, disatukan dengan abu hio-loo Kelenteng Sam Poo Khong. Begitu sebaliknya. Ritual ini dimaksudkan untuk menyetroom Kim-sien Sam Poo Thay Djien Kelenteng Thay Kak Sie, agar sesakti Kim-sien Sam Poo Thay Djien yang asli, yang berada di altar Kelenteng Sam Poo Khong.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut