Dilema Pemakan Daging di Musim Kurban
- U-Report
Para penyayang binatang, silakan menghujat saya yang kemudian malah kembali ke motor dan tidak membawa si kucing pergi. Saya dihinggapi sesal, tetapi dalam kondisi saya sekarang, saya belum mampu. Saya cuma bisa berdoa dalam hati, semoga anak-anak itu menyayangi si kucing. Ojek kembali melaju, tetapi kemudian saya diingatkan bahwa saya akan menghadapi bulan umat muslim merayakan Idul Adha.
Di beberapa ruas jalan, saya melihat kambing-kambing, ada yang berdiri dan ada yang bersimpuh di trotoar, tengah dijajakan. Tadi siang mungkin mereka kepanasan, dan sore ini kehujanan. Saya teringat beberapa hari yang lalu, ada beberapa teman di whatsap group yang berkirim foto-foto kambing kurban dan menjadikan foto-foto tersebut sebagai bahan bercanda. Foto-foto itu diberi caption semisal 'kok bentuk kamu jadi begini sekarang?' 'Pasti ini harum parfum kamu.' dan sebagainya.
Berbagai respon menunjukkan bahwa candaan seperti itu lucu, tidak ada rasa iba melihat hewan-hewan itu terikat di pinggir jalan, menghirup debu, kepanasan, jadi bahan tontonan. Saya muak dengan mereka. Jangan salah sangka. Saya tidak menyangkal kemuliaan filosofi di balik ritual kurban, yaitu berbagi dengan orang lain yang kurang mampu.
Yang saya sedihkan, cara para hewan kurban diperlakukan. Karena mereka akan mengorbankan nyawa untuk memuaskan lapar manusia, salahkah bila mereka diperlakulan dengan lebih baik? Semakin sedih saya jika memikirkan kemumgkinam bahwa sejak lahir bisa saja mereka terus-menerus mengalami perlakuan buruk. Bisa jadi, disembelih merupakan peristiwa terbaik dalam hidup mereka karena lalu penderitaan mereka berakhir.
Saya berharap betul bahwa setelah mereka melintasi jembatan pelangi, mereka bisa berlarian sepuas hati di padang rumput paling subur dan paling segar sealam semesta. Sayangnya, di negara ini, binatang cuma warga kelas 13 mungkin. Jangankan mau bertindak manusiawi terhadap hewan, kepada sesama manusia saja tak manusiawi. Dan saya pun bisanya cuma berkoar-koar melalui tulisan ini, lalu pada saat hari raya, ikut menyicipi daging kambing, yang mungkin sore tadi menatapi saya dengan sorot mata kesedihan. (Tulisan ini dikirim oleh Sylvia_Masri)