Pengorbanan Ayah untuk Keluarganya
- U-Report
VIVA.co.id – Ayah, seseorang yang selalu kuanggap super hero bagiku. Walaupun berasal dari kampung, namun tak mematahkan semangat ayah merantau ke kota ibukota Jakarta untuk mengubah nasib yang lebih baik. Kerasnya kehidupan ibukota tak mengalahkan niat utama ayah datang ke kota yang sering dibilang kota metropolitan, untuk mencari perkerjaan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.
Hanya dengan ijazah SLTA, ia sangat optimistis mengubah nasib keluarganya. Asap kendaraan bermotor yang mengebul tiap hari di kota Jakarta, dengan panas terik matahari yang berada di atas kepalanya sudah menjadi sarapan ayah sehari-hari dalam mencari pekerjaan. Beliau tetap semangat keluar masuk perkantoran dengan map yang berisi ijazah dan CV yang ia bawa dari kampung.
Namun ternyata tamatan SLTA sangatlah sulit mencari pekerjaan di ibukota. Khususnya untuk perkantoran. Sudah berbulan-bulan ayah tak diterima juga di perkantoran yang ia inginkan. Diusir, dicemooh, dan dianggap sebelah mata karena hanya lulusan SLTA tak pernah mematahkan semangat utama ayah datang ke Jakarta.
Akhirnya ayahku mengontrak rumah yang minimalis untuk berteduh dari sinar matahari dan hujan. Mengontrak dengan uang hasil pinjaman dari paman ayah yang berada di Jakarta. Dengan harapan dapat memberi rasa aman terhadap istri dan anaknya untuk beristirahat sehari-hari. Walaupun hanya sepetak, setidaknya cukup untuk beristirahat.
Ibadah ayah tak pernah tinggal sesaat pun. Subuh dilaksanakan sebelum ia berangkat mencari pekerjaan. Zuhur, asar, magrib, dan isya pun tak pernah ia tinggalkan. Karena ayah yakin Allah akan membantu ayah dalam mencari pekerjaan di Jakarta.
Apapun pekerjaan yang halal selalu diterimanya. Seperti menjadi tukang bangunan yang membangun rumah orang dengan bayaran yang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sampai menjadi pengantar koran dari rumah ke rumah dengan sepeda pinjaman dari tetangganya.
Hasilnya setiap hari selalu ia tabung untuk kebutuhan yang tak terduga dan biaya sekolahku. Dan sisanya ia gunakan untuk makan sehari-hari. Dengan makan seadanya yang hanya nasi putih dan kerupuk yang dioleskan kecap, pernah ia rasakan bersama keluarga kecil yang harmonis.