Pak Tumiran yang Tak Kenal Lelah
Walaupun usianya sudah terbilang tua, Tumiran terus semangat bekerja setiap harinya. Tak pernah terlintas di pikirannya untuk berhenti bekerja. Dengan penghasilan yang kadang masih dirasa kurang, ia tidak pernah lupa menyisihkan sedikit rezekinya untuk beramal. Tak lupa juga, ia menyisihkan sedikit rezekinya untuk pemugaran makam istri dan anak tercintanya. Begitu besar semangat Tumiran dalam mencari uang demi menyambung hidup, dan untuk membayar sewa makam anak istrinya.
Dengan kondisi seperti inilah Tumiran menjalani kehidupan sehari-harinya. Banyak warga yang bersimpati kepadanya, sehingga banyak pula bantuan datang untuk Tumiran. Meskipun begitu, Tumiran tidak besar kepala. Ia hanya bisa berterima kasih kepada warga yang telah bersimpati terhadap dirinya dan tetap merasa harus berjuang mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan.
Di usia yang sudah tak lagi muda, banyak harapan yang ingin Tumiran sampaikan. Ia berharap semoga ia selalu diberikan kesehatan dan tidak membebani banyak orang di kondisinya yang sekarang. Cucunya harus bisa sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Itu adalah harapan terbesar Tumiran untuk cucu tercintanya.
Ia mempunyai motivasi penting dalam hidupnya. Yaitu selagi masih kuat dan bisa, maka lakukanlah. Jalani hidup sehari-hari dengan santai, selalu bersyukur, tidak pantang menyerah, dan usaha terus itu adalah kesan dari Tumiran. Kesedihannya hanya bisa ia rasakan sendiri. Keluh kesah yang ia rasakan bukan menjadikan ia orang yang lemah dan putus asa. Usia yang sudah tua bukan penghalang untuk terus bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Tulisan ini dikirim oleh Diandra Yustisia dan Syifa Nur Maulidia, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)