Satu Sisi Potret Kehidupan di Ibukota
Contohnya warga yang tinggal di pinggiran sungai yang melewati pintu air Manggarai. Masih ada beberapa warga yang secara sengaja maupun tidak sengaja membuang sampah ke sungai. Hal ini tentu menciptakan masalah. Yaitu ketika curah hujan yang tinggi terus mengguyur wilayah Jakarta, sampah-sampah yang berada di sekitar aliran sungai terbawa oleh arus dan tersangkut di pintu air.
Apabila dibiarkan tanpa melakukan penanganan lebih lanjut, akan semakin banyak yang menumpuk dan menimbulkan pemandangan tak sedap bagi warga sekitar Jakarta. Maka dari itu, petugas pintu air Manggarai selalu mengerahkan kendaraan alat besar untuk mengangkut dan menyingkirkan sampah yang berserakan tersebut.
Tapi tahukan Anda kalau ternyata tidak semua kendaraan alat besar bisa menyingkirkan sampah yang tersangkut di pintu air. Contohnya seperti sampah-sampah kecil yang harus disingkirkan secara manual. Manual maksudnya adalah harus ada jiwa kemanusiaan seseorang yang turun ke sungai untuk mengambil sampah kecil yang menumpuk tepat di pintu air tersebut.
Sampah yang dibiarkan tersangkut akan menumpuk di pintu air. Tumpukan tersebut menciptakan sebuah kondisi unik dimana sampah-sampah itu dapat digunakan sebagai tempat berpijak seseorang di atas air. Tetapi ini adalah hal yang berbahaya, sebab di bawah tumpukan sampah tersebut masih merupakan sebuah aliran arus sungai yang cukup deras yang bisa saja membahayakan nyawanya.
Tidak ada alat pengaman profesional, hanya konsentrasi saja yang bisa membuat dirinya aman. Tujuan orang tersebut berpijak di atas tumpukan sampah adalah menyingkirkan sampah yang membuat aliran arus air sungai tersendat. Setelah dirasa aliran arus air sungai tidak tersendat lagi, ia pun akan langsung beranjak dari tumpukan sampah tersebut. (Tulisan ini dikirim oleh Rai Pribadi & Candra Aji Risyanto, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)