Pengetahuanmu Mengajarkanku Arti Kehidupan
- U-Report
Kau tahu ayah, karena sejak kecil kau membebaskanku untuk berpikiran terbuka dan selalu menanyakan hal baru di sekelilingku membuat aku menjadi perempuan yang banyak tahu. Terkadang aku sering disebut cerewet, kepo, dll. Namun, itu hal yang baik menurutku. Kalau aku tidak seperti itu, aku akan menjadi perempuan yang diam dan tidak berkembang.
Kau tahu ayah, aku belajar dunia lelaki dari ayah. Yang aku lihat, ayah adalah lelaki yang baik, tegas, sopan, bersahaja, bertanggung jawab, pengertian, dan semuanya. Namun, ketika usiaku beranjak dewasa aku sudah mulai mengenal lelaki selain ayah. Aku menjalin hubungan dengannya sampai pada akhirnya hatiku terluka oleh seorang lelaki.
Sakit rasanya dan sampai akhirnya aku sadar hanya ayahlah lelaki yang tidak akan pernah menyakiti perempuan. Dan itu menjadi alasan, mengapa anak perempuan sangat mencintai ayahnya. Karena setidaknya ada satu lelaki di dunia ini yang tak akan menyakitinya.
Ayah, kau tidak pernah membatasi anakmu harus menjadi apa. Kau hanya mengikuti apa kata hatiku dan kau akan setuju. “Aku ingin menjadi reporter VOA ayah,” ucapku kala itu. Dan kau bilang, “Kejarlah cita-citamu sampai kamu bisa meraihnya. Ayah akan mendukungmu terus dalam hal apa pun,” ucap ayah.
Ayahku tidak pernah mengekangku untuk menjadi apa pun karena menurutnya itu adalah jalan hidupku. Aku yang tahu jalanku ke mana dan untuk apa. Ayah hanya mengarahkan dan terus memberikanku dorongan semangat agar cita-citaku tercapai.
Kau tahu ayah, anak kecilmu sekarang sudah beranjak dewasa. Anak perempuan ayah ini sudah tidak cengeng lagi. Dan sekarang telah menjadi wanita yang tegar dan bijaksana. Anak perempuan ayah sudah menjadi wanita dewasa yang siap menyongsong masa depan dengan cara yang telah kau berikan kepadaku. (Tulisan ini dikirim oleh Ashley Fatimah, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)