Semangat Juang Pak Yadi

Bahagia di hari tua.
Sumber :
  • Pixabay/Unsplash

Sebulan sekali, Pak Yadi memilih pulang kampung naik bus. Uang hasil jualannya diberikan kepada menantunya. “Saya hanya bisa kasih tiga ratus ribu rupiah paling besar setiap bulan. Itu untuk membantu kebutuhan menantu dan cucu saya satu bulan,” ujarnya.

img_title Road to Jepang, Kisah-Kisah Inspiratif Driver Indonesia yang Kini Berkarier di Luar Negeri

Bagi Pak Yadi, uang tiga ratus ribu itu sangat besar. Uang itu ia kumpulkan dari hasil jerih payahnya. Terlebih menantu dan juga cucunya tidak pernah mengeluh dengan uang yang diberikan oleh Pak Yadi. Ia memilih merantau karena di kampung halamannya tidak punya pekerjaan. Daripada mengemis, Pak Yadi lebih memilih untuk berjualan. Ia juga tak ingin berharap belas kasihan dari siapapun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di perantauan, Pak Yadi juga selalu pintar menjaga kesehatan. Tak ada resep khusus, namun jika kakinya pegal dan tak enak badan, Pak Yadi cukup minum kopi lalu mengurut kakinya sendiri dengan minyak.

img_title Dari Gagal Jadi Teladan, Perjalanan Rizal Baruna Adji Menginspirasi Generasi Muda Lewat Seragam dan Dunia Digital

Pak Yadi tidak memiliki kartu jaminan kesehatan. Jika sakit, ia tak mau berobat ke rumah sakit karena tidak punya uang. Paling Pak Yadi hanya pergi ke warung dan membeli obat seperlunya. “Saya bersyukur diberi kesehatan. Paling hanya pegal-pegal saja sakitnya,” tutupnya. (Tulisan ini dikirim oleh Khoerunnisa, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)

Ilustrasi pensiun.

Konglomerat Ini Punya Harta Rp875 Triliun tapi Tak Memiliki Anak, Begini Nasib Harta Warisannya Setelah Wafat

Kisah Klaus-Michael Kühne berbeda dari banyak konglomerat dunia. Setelah puluhan tahun membangun kerajaan bisnis di sektor logistik, pelayaran, penerbangan hingga…

img_title
VIVA.co.id
5 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut