Menggapai Mimpi Menuju Masa Depan
Ayah Amanda membiarkan anaknya untuk menempuh jalan kesuksesannya sendiri. Entah apa yang bakal dilakukan anaknya, asalkan itu pekerjaan yang halal dengan sepenuh hati orang tua akan mendukung dan senantiasa mendoakan. ”Kita tak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan, yang terpenting sekarang kita berusaha dan berdoa. Semua sudah ada yang menentukan,” itulah ucapan yang sering dilontarkannya kepada Amanda.
Gadis kelahiran 1997 ini tak pernah menyangka bisa melanjutkan studi di bidang jurnalistik. Sebelumnya Amanda hanya menjalani studi di bidang pariwisata ketika di Sekolah Menengah Kejuruan. Tentunya tidak ada keterkaitan sama sekali dengan dunia jurnalistik.
Amanda juga mengakui bahwa di sekolahnya sama sekali tidak ada bentuk kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik. Sebelumnya juga ia tidak pernah mengikuti semacam seminar dan pelatihan jurnalistik. Ini adalah kali pertamanya ia mengenal dunia jurnalistik.
Meskipun begitu, Amanda tak patah semangat untuk mengejar mimpinya. Ia tahu bahwa pilihan untuk menjadi seorang jurnalis adalah hal yang tidak mudah. Baginya menjadi seorang jurnalis itu cukup berat. Seorang jurnalis harus lari ke sana ke mari mengejar narasumber dan memburu momen. Seorang jurnalis juga harus peka terhadap isu-isu sosial politik dan kritis dalam menyelesaikan kasus atau masalah sosial. Namun, menurutnya hal seperti itulah yang menarik dan membuatnya ingin sekali menjadi seorang jurnalis.
“Jurnalis itu keren, meskipun mereka dibayar oleh suatu perusahaan, tapi tugasnya adalah mengabdi kepada masyarakat,” ucapnya bersemangat. Amanda juga yakin bahwa dengan menjadi seorang jurnalis, wawasan dan pengetahuannya akan terus bertambah. Selalu yakin bahwa akan ada hasil yang luar biasa dari perjuangan yang sangat berat adalah hal yang diyakini oleh gadis berkacamata ini.
Tentukan tekad, perjuangkan mimpi, dan berusaha dengan ikhlas merupakan kunci dari kesuksesan. Amanda yakin, perlahan mimpinya akan segera terwujud seiring dengan usaha dan kerja keras yang dilakukannya. (Tulisan ini dikirim oleh Dwi Reka, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)