PMII dan Tenun Kebangsaan
VIVA.co.id – Pasca reformasi bergulir, organisasi gerakan ekstra kampus menjadi gerbong penggerak reformasi. Termasuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang memiliki tantangan yang tidak mudah. Bahkan, tidak sedikit yang sudah kehilangan ruang gerak dan tidak mampu melakukan regenerasi internal. Hal tersebut disebabkan gagal dalam merespon perkembangan kehidupan. Dampaknya jelas, tidak mampu mengambil pilihan model gerakan yang berkontribusi nyata terhadap kehidupan bernegara.
PMII sebagai organisasi yang lahir dan besar dengan kultur Nahdlatul Ulama (NU). NU merupakan organisasi keagamaan yang memiliki kontribusi besar dalam pendirian NKRI. Dalam perjalanannya, PMII tidak hanya telah melahirkan tokoh-tokoh pemimpin besar sekaliber Mahbub Djunaidi, Zamroni, Muhaimin Iskandar, dll. Tetapi PMII juga terus konsisten menghadirkan gagasan-gagasan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan bernegara.
Kekuatan gagasan, jaringan yang luas, serta kesadaran bahwa PMII bagian tak terpisahkan dari proses sejarah itulah yang kemudian membentuk kader PMII seperti Mahbub Junaidi dan Zamroni pada zamannya mampu menjadi konsolidator gerakan perubahan. Saat ini, seperti Abdul Muhaimin Iskandar atau biasa disapa Cak Imin adalah salah satu tokoh PMII yang selalu menelurkan gagasan-gagasan segar kapan dan dimanapun memimpin.
Disadari atau tidak, kepemimpinannya mampu menjadi katalisator kekuatan NU-PKB. Watak konsolidator kader PMII menjadi lebih kuat karena ditopang dengan kekuatan ide dan gagasannya yang matang. Ciri khas tersebut yang kemudian menjadi daya imun PMII tetap bisa survive di tengah kehidupan bernegara yang dinamis.
Dalam konteks keislaman, komitmen PMII terhadap Ahlissunah wal Jama’ah An-Nahdliyah tidak bisa diragukan lagi. Bahkan PMII menjadi organisasi kepemudaan yang menjadi penjaga sekaligus konsisten melestarikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Islam yang ramah dan memiliki pandangan dan sikap final terhadap bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pandangan ini sejalan dengan NU yang dalam sejarah menjadi embrio lahirnya PMII.
Sebagai gerakan mahasiswa Islam, dalam konteks keindonesiaan terlebih pasca reformasi seiring dengan masifnya gerakan Islam transnasional, peran PMII semakin dibutuhkan. Bagaimanapun, gerakan transnasional dengan paham radikalisme, cenderung anti negara dan menggerogoti nasionalisme rakyat. Cita-cita mendirikan Khilafah Islamiyah sudah mulai marak di kampus dan penguasaan masjid sebagai tempat membangun jaringannya.