Ada Apa dengan Alutsista TNI?
Atas insiden rudal C705 yang terlambat meluncur pada September lalu, publik masih berselimut praduga. Di mana letak kesalahannya? Apakah ada sanksi untuk negara produsen karena telah menjual rudal cacat produksi? Apakah ada wacana untuk tidak melanjutkan kontrak pembelian alutsista dari Tiongkok untuk sementara waktu? Pertanyaan-pertanyaan ini pun tak ditemukan jawabannya juga dari Pansus Alutsista bentukan Komisi 1 DPR RI yang merupakan mitra kerja TNI dan Kementerian Pertahanan.
Tiongkok terkenal akan kemampuannya dalam memproduksi alutsista tiruan dengan harga murah. Itulah yang membuat Negara-negara di kawasan mulai membelanjakan anggaran alutsistanya ke Tiongkok.
Thailand, misalnya. Akibat embargo senjata dari Amerika Serikat pasca terjadinya kudeta di negeri Gajah Putih itu mulai memenuhi kebutuhan alutsistanya dari Tiongkok. Bahkan, Thailand memutus kontrak pengadaan sejumlah tank dari Ukraina dengan alasan situasi internal negara pengekspor senjata tersebut yang tidak kondusif.
![]()
(Nastiti S Lestari, News Presenter dan Tenaga Ahli DPR RI)
To drive innovation and technology you have to drive your military! Dengan serangkaian insiden yang dapat memperburuk citra TNI di mata dunia ini, sepertinya sekarang saatnya kita lebih mendorong dan memanfaatkan produksi dalam negeri. Toh, industri pertahanan kita juga membanggakan bukan?
Panser Anoa buatan PT. Pindad sudah mondar-mandir di Markas Pasukan Perdamaian Dunia di Lebanon dan senapan serbu (SS-22) telah menjadi andalan pasukan militer di UEA, Brunei, Irak, Bangladesh dan Myanmar. PT Dirgantara Indonesia (PT. DI), ikon industri kedirgantaraan Indonesia, sudah banyak mendesain dan merakit pesawat yang digunakan oleh beberapa negara di dunia. Meski hingga saat ini PT. DI belum dapat membuat helikopter sendiri. Tak ketinggalan PT PAL yang awal tahun ini mulai membangun kapal selam setelah sebelumnya mengirimkan tenaga ahli ke Korea Selatan untuk belajar membuat kapal selam.
“Mencuri” teknologi seperti yang dilakukan oleh PT. PAL menjadi cara lain dalam memperkuat military defence selain membeli alutsista dari luar negeri yang standar dan mutunya sudah diakui dunia. Yang kita tidak mampu membuatnya karena teknologi yang masih sederhana dan belum memenuhi ekspektasi pertahanan yang kompleks dan efektif.