Susahnya Menjadi Anak Pertama
- Pixabay/ RondellMelling
Namun, inilah takdir. Aku dilahirkan di keluarga yang cukup berada. Namun, aku selalu hidup apa adanya, bahkan serba kurang. Karena orang tuaku lebih mementingkan kepentingan adikku, tepatnya setelah aku lulus dan berhenti kuliah. Aku sadar kenapa mereka seperti itu padaku. Itu karena aku sudah menyia-nyiakan apa yang telah mereka berikan padaku ketika aku masih sekolah dan kuliah dulu.
Aku menyadari kesalahanku, tapi mereka tidak menyadari kesalahan mereka padaku. Aku yang dulunya ingin begini, tapi mereka inginnya malah begitu. Aku terpaksa mengikuti mau mereka dan melupakan apa yang aku inginkan.
Jika saja waktu bisa diputar lagi, pasti aku tidak akan mengikuti apa yang orang tuaku kehendaki dan aku akan tetap mengikuti apa yang sudah menjadi keinginanku. Mungkin aku tidak akan diperlakukan begini oleh mereka. Bahkan adik-adikku mungkin akan mau mendengarkan apa yang aku katakan dan aku bisa menjalankan peranku sebagai seorang abang dengan baik.
Aku benar-benar menyesal karena telah menjadi seorang abang bagi mereka. Andaikan dulu aku tidak bertemu dengan mereka dan masih tinggal bersama kakek dan nenek, cerita ini mungkin tidak akan pernah ada. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)