Popoy, Si Kucing Kampung Kesayangan
Aku berpesan begitu karena aku akan pergi dan tinggal cukup lama di rumah kakek. Karena jarak dari rumah orang tuaku ke kampus cukup jauh. Kutinggalkan Popoy yang waktu itu belum kuberi nama pada adikku, Bobby.
Enam bulan kemudian, aku berhenti kuliah. Aku menghabiskan waktuku di rumah kakek cukup lama. Hingga akhirnya aku bosan, dan kembali ke rumah orang tuaku. Saat tiba di rumah, aku melihat seekor kucing kampung yang langsung menghampiriku ketika aku baru sampai di warung ibuku. “Bob, kucing siapa nih?” tanyaku pada adikku. “Itu Popoy, kucing yang pernah Bang Arie mandikan,” jawabnya. Aku terkejut dan langsung mengelusnya.
Hingga sekarang, Popoy masih hidup. Sudah dua tahun umurnya, tapi dia belum punya anak. Ketika ada jantan mendekat, dia lari dan menjauh. Karena terlalu sayangnya aku pada Popoy, aku bahkan memasukkannya ke dalam tulisan keduaku yang siap kukirim ke penerbit. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)