Haji dan Kurban saat Idul Adha, Momentum Kebahagiaan Bersama

Puncak Ibadah Haji, Jutaan Jemaah Memadati Arafah
Puncak Ibadah Haji, Jutaan Jemaah Memadati Arafah
Sumber :
  • REUTERS/Ahmed Jadallah

VIVA.co.id – Ibadah haji adalah momentum untuk meningkatkan keimanan. Umat muslim berbondong-bondong pergi melaksanakan ibadah haji. Sebagai rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan bagi orang  Islam yang mampu untuk berkunjung ke Baitullah.

Orang Indonesia termasuk yang begitu religius dan taat terhadap apa yang diperintahkan oleh agama untuk melaksanakan ibadah haji. Hampir setiap tahun banyak orang yang pergi ke Baitullah. Sampai daftar antrean untuk ibadah haji pun penuh dan harus menunggu beberapa tahun.

Sebagaimana disampaikan dalam firman Allah SWT yang menjelaskan tentang hukum haji yang berbunyi sebagai berikut, “Mengerjakan haji adalah kewajiban bagi manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang  yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesunguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali Imran:97).

Bagi orang yang mampu, bisa menjalankan ibadah haji. Dan bagi umat Islam yang belum mampu, disunahkan untuk melaksanakan salat Idul Adha dan memotong hewan kurban. Makna dalam Idul Adha sendiri adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan seorang muslim dan Hari Raya Idul Adha diharap bisa menjadi spirit dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Keimanan yang kuat yang dilandasi dari keyakinan bahwa Allah adalah yang Maha Kuasa dan Maha Kaya. Sehingga kita dianjurkan untuk berkurban dan menyerahkan diri kepada Allah untuk meningkatkan keimanan kita. Bahwa segala sesuatu barang atau kekayaan yang kita miliki hanya titipan Allah SWT.

Sebagaimana dikisahkan asal mula kita berkurban yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar. Bagaimana Nabi Ibrahim diuji oleh Allah SWT dalam meningkatkan keimanannya. Waktu itu, Nabi Ibrahim adalah seorang yang kaya pada zamannya. Ia memiliki kekayaan yang dikaruniai Allah SWT dengan berlimpahnya hewan ternak.

Melalui mimpi, Nabi Ibrahim diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya yang begitu disayang, yaitu Nabi Ismail. Di sinilah ujian terberat keimanan Nabi Ibrahim. Ia harus berkurban tidak hanya harta, tetapi putra yang dicintainya. Kalau hanya harta, pasti dianggap biasa saja. Tetapi ini harta yang paling berharga dan dicintainya, yaitu putra yang begitu dinanti-nantikannya.