Suhu Politik Meningkat, Bagaimana Nasib Rakyat?

Kampanye Akbar Prabowo-Hatta di SUGBK yang dihadiri buruh di Pilpres 2014.
Kampanye Akbar Prabowo-Hatta di SUGBK yang dihadiri buruh di Pilpres 2014.
Sumber :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Saat ini terasa suhu politik makin kencang. Di mana setiap hari kita bisa melihat berita, opini dan pernyataan dari para tokoh politik saling berseliweran. Seakan hal ini menjadi konsumsi pokok di tahun 2017. Padahal, Pemilu masih dua tahun lagi, dan Pilkada serentak pun masih satu tahun lagi. Tetapi suhu politik telah terasa menghangat di 2017 ini.

Tokoh politik, pemerintah, sampai tokoh publik pun berbicara politik. Di sisi lain, masyarakat merasa resah dengan banyaknya isu-isu berbau politik. Dari mulai isu persoalan hukum, politik, dan yang ramai kemarin adalah isu kebijakan pemerintah soal pembelian senjata, dan isu-isu lain yang sebenarnya tidak bersentuhan secara langsung dengan masyarakat. Karena kebutuhan mereka bukan ramainya isu-isu tersebut. Tapi mereka menginginkan kebutuhannya bisa terpenuhi, bisa menyekolahkan anak, dan bisa ke rumah sakit kalau mereka sakit.

Pertanyaannya, apakah suhu politik hangat ini membuat tenteram atau malah membuat resah masyarakat? Pasti jawabanya, membuat resah masyarakat. Kalau ini bisa kita simpulkan jawabanya dengan cepat, lalu kenapa elite politik masih tetap tidak peka terhadap keinginan masyarakat yang menginginkan ketenteraman dan bisa hidup layak?

Tahun ini, terasa suhu politik meningkat disebabkan adanya persaingan yang akan dilakukan di tahun 2018 dan 2019. Di mana aktor-aktor politik berkompetisi memenangkan pertarungan politik dalam memperebutkan kekuasaan yang akan diraih. Sebenarnya, berkompetisi memperebutkan kekuasaan sah-sah saja. Karena memang semua menginginkan kekuasaan untuk tujuan yang mulia. Yaitu untuk mengabdi kepada rakyat dan memakmurkan negara ini.

Menjadi persoalan tatkala tugas dan peran malah terlupakan dan asyik berpolitik ria. Sedangkan tugas pokok memerankan fungsinya dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara terlupakan. Ini menjadi bahan introspeksi kita semua, terutama yang duduk di pemerintahan dan lembaga legislatif.

Presiden Joko Widodo selalu mengingatkan kepada jajarannya untuk fokus dan fokus dalam bekerja untuk kepentingan rakyat, dan jangan berpolemik yang membuat resah masyarakat. Ini semua sebenarnya harus menjadi peringatan bagi eksekutif dan legislatif untuk tetap fokus dan bekerja sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing. Kesadaran ini penting untuk menghindari dan mengikis budaya pergunjingan politik yang berefek negatif.

Walaupun tidak bisa kita pungkiri, setiap mendekati tahun politik, suhu dan situasi politik  memanas. Ini memang menjadi hal yang biasa. Tetapi menjadi tidak elok tatkala semua larut dalam situasi ini dan melupakan kewajibannya sesuai dengan peran dan fungsinya. Kita berharap bahwa sekeras apapun dinamika politik, kita harus tetap mementingkan kepentingan umum.