Pameran Seni Parallel Event Biennale Jogja XIV Tahun 2017

Pameran seni Biennale Jogja.
Pameran seni Biennale Jogja.
Sumber :
  • Luki Antoro

Dengan padatnya agenda seni Jogja tersebut menunjukkan bahwa kita dapat estimasikan setiap bulan punya 15 acara atau kegiatan, dan dapat diasumsikan bahwa setiap dua hari sekali Jogja memiliki acara seni yang terus menghidupkan wajah seni di Jogja. Dan kabar baiknya, mereka yang berkarya adalah seniman-seniman muda masa depan Jogja  yang siap menjadi wajah seniman Indonesia.

14 Oktober 2017 menjadi awal perjalanan Parallel Event Biennale Jogja XIV 2017. Bertempat di Ruang seni, Ace House Collective di Jln. Mangkuyudan No. 41 Yogyakarta para bomber yang terdiri dari Deka, ROT/LoveHateLove, TAT(Tatsoy), Mads, Muck dan Graforce mempresentasikan karya bertajuk “ AFTER ALL THESE YEARS “ yang berlangsung mulai Sabtu, 14 Oktober 2017 sampai 20 November 2017 nanti di Ace House Collective.

Pameran ini akan mengungkap banyak cerita yang sempat tidak terungkap tentang perkembangan graffiti di Kota Yogyakarta, khususnya pada awal 2000-an.

Karya-karya graffiti yang tersebar di sudut kota yang sempat didokumentasikan akan dihadirkan lagi. Setidaknya pameran kali ini akan melihat perkembangan graffiti di Kota Yogyakarta dalam satu dekade terakhir ini. 

Pameran ini mencoba mengajak penikmat seni untuk hadir kembali bernostalgia tentang seni graffiti yang sempat terukir di sudut kota Jogja. Sekalipun ada, narasi dan artefak yang beranjak dari masa itu hanya menjadi pengalaman eksoterik semata, yang tersimpan sebagai dokumen pribadi dan terabaikan.

 After All These Years kemudian menjadi moment di mana fragmen cultural yang selama ini tak tampak kembali dipresentasikan dalam pameran ini. Dalam opening kali ini pun tampak hadir para seniman-seniman apik graffiti Jogja juga hadir untuk turut nostalgia menikmati karyanya yang mereka ukir beberapa tahun lalu. Termasuk juga para generasi muda yang tertarik pada graffiti juga turut memadati opening “After All These Years” kali ini.

Opening kali ini juga menyuguhkan live graffiti di media asbes yang besar. Menunjukan bahwa seni graffiti tak selamanya frontal dan dipandang sebagai vandalisme. Mungkin kalau menengok arsip Biennale Jogja tahun 2015 di acara Jamasan di Yogyatourium, Mas Alex TmT selaku seniman graffiti di Jogja juga sempat menceritakan bahwa seni graffiti tak lepas dari proses-proses yang menegangkan.