Inilah Bedanya Setya Novanto dan Pangeran Alwaleed

Setya Novanto saat jadi saksi sidang lanjutan sidang kasus korupsi proyek e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta beberapa waktu lalu.
Setya Novanto saat jadi saksi sidang lanjutan sidang kasus korupsi proyek e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta beberapa waktu lalu.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Hafidz Mubarok A

VIVA – Lambannya penuntasan kasus korupsi KTP Elektronik atau E-KTP yang merugikan negara triliunan rupiah mendapat kecaman dari banyak kalangan. Salah satunya dari pentolan aktivis 1998 Haris Rusly, yang mengkritik lemahnya penegakan hukum dan komitmen pemberantasan korupsi, khususnya kepada Setya Novanto.

Walau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan kembali Setya Novanto sebagai tersangka kasus E-KTP, dia membandingkan dengan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di beberapa negara.

Seperti di Kerajaan Saudi Arabia, Pangeran Alwaleed bin Talal yang memiliki posisi politik kuat, lama menguasai kartel minyak dan keuangan global, serta salah satu orang terkaya di dunia yang memiliki aset kekayaan ribuan triliun ditangkap oleh komite anti korupsi setempat yang dipimpin oleh putra mahkota Muhammed bin Salman.

Di belahan dunia lainnya, bekas manajer kampanye Donald Trump, yakni Paul Manafort ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang oleh FBI dan tengah menunggu masuk penjara, walau sangat berjasa mengantarkan Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45.

"Tindakan kepada Alwaleed dan Manafort itu sangat berbanding terbalik di Indonesia. Bagaikan bumi dan langit dengan perlakuan dan tindakan kepada Setya Novanto dalam kasus korupsi e-KTP. Hingga kini, Novanto masih bisa eksis dan petantang-petenteng di panggung politik nasional dan berbagai media massa seakan tak bersalah," ujar eksponen Aktivis '98, Haris Rusly.

Haris menilai, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi di Arab Saudi dan AS berjalan efektif dan tuntas. Di mana Pangeran Waleed dan Manafort dianggap sebagai “kanker” yang membahayakan negaranya masing-masing. Selain itu, kedua pemain global tersebut dianggap sebagai “kanker” bagi rezim baru global yang harus diamputasi.

Dolar tak laku, jaringan yang luas tak berfungsi, back up kekuasaan terkunci. Alwaleed dan Manafort adalah korban “patahan sejarah". Akibat gesekan antar lempeng kapital, tumbangnya oligarki tua global digulung oleh oligarki baru yang menghendaki perubahan bentuk baru dan cara baru dalam penghisapan.