Jangan Ada Lagi Generasi Menunduk

Anak-anak asyik bermain gadget.
Sumber :

Sudah tak asing bagi kita jika melihat orang-orang tertawa dan senyum-senyum sendiri tanpa menghiraukan kehadiran orang lain di sebelah atau sekitarnya. Dengan melakukan hal seperti itu, kita sudah merasa memiliki banyak teman dan hidup merdeka. Sangat miris rasanya bahwa teknologi yang berkembang pesat dan meledak ternyata menarik manusia ke dalam kehidupan anti sosial. Sekalipun mereka aktif dalam media sosial, belum tentu mereka aktif di kehidupan sosial di dunia nyata.

img_title Toko HP Makin Menjamur, Tanda Gadget Kini Jadi Kebutuhan Primer?

Sadarkah kita, bahwa ketagihan dengan media sosial menjauhkan kita pada kehidupan positif bersama orang lain di sekitar. Kita melupakan semua kegiatan yang menyenangkan di dunia nyata tanpa bumbu-bumbu gadget, dan lawakan di timeline media sosial. Kita melupakan cara untuk tertawa lepas alami dari  lawakan teman sendiri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kita juga melupakan cara untuk bisa bercerita keluh kesah kita dengan teman tatap muka. Itu semua tergantikan dengan teknologi yang menjadi kehidupan kedua untuk kita. Semua dipermudah dengan konten dan kecanggihan yang dimiliki setiap gadget.

img_title Tak Larut dengan Gadget, Megawati Dorong Anak Indonesia Peduli Tanaman dan Lingkungan

Kini, kita tak perlu repot-repot berkumpul di suatu tempat atau ruangan hanya untuk sekadar mengobrol dan bersenda gurau. Kini, sudah tersedia konten chatting dengan membuat group dan mengundang beberapa anggota kemudian terjadilah percakapan. Kini semua manusia mendadak menjadi aktivis, bukan aktivis di lembaga-lembaga melainkan aktivis media sosial.

Kini, pekerjaan paling diminati adalah menjadi netizen dan haters di akun sosial media orang lain. Pekerjaan paling mahir adalah menjadi hacker untuk meretas akun media sosial orang lain. Men-stalker akun sosial media sudah menjadi hobi setiap manusia.

img_title Italia Larang Penggunaan Ponsel di Sekolah Selama Jam Pelajaran

Kini, banyak netizen yang karakternya berubah 180 derajat menjadi puitis seperti Chairil Anwar. Mengeluarkan kata-kata bergaya sastra demi sebuah like dan komentar. Seketika menjadi pujangga dadakan dengan bahasa yang menyilaukan hati. Mengumbar kata sayang dan kemesraan di media sosial yang menjadi tameng bahwa mereka adalah pasangan yang paling bahagia. Padahal, pada nyatanya itu semua hanya tipuan. Di balik foto dan caption yang dibuat, ada ribuan waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk membuat tulisan pelengkap di instagram.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut