Di tengah Ancaman Perang, Begini Reaksi Gen Z

Ilustrasi media sosial.
Sumber :
  • Pixabay

Perang hari ini tak hanya berlangsung di medan tempur, tapi juga merambah ke lini masa TikTok. Di saat dunia diliputi ketegangan dan ancaman konflik global, generasi muda justru meresponsnya dengan cara yang unik: memakai tagar #WW3, tampil dengan outfit bergaya militer, hingga membagikan meme tentang ikut perang lengkap dengan eyeliner.

img_title Siapa Zia Maulidin yang Mendadak Viral? Kreator dengan 6 Juta Followers, Kontennya Tembus 2,2 Miliar Likes!

Terlihat jenaka, tapi di balik tawa itu tersimpan cerminan kegelisahan mereka menghadapi dunia yang tak menentu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tagar #WW3 jadi viral di berbagai platform, terutama TikTok dan X (Twitter). Banyak anak muda yang ikut membuat konten berupa:

img_title Rayakan HUT RI KE-81, TikTok Dukung Kreator Muda dengan Aksi Nyata Peduli Lingkungan

OOTD gaya tentara ala fashion week,
Video POV jadi prajurit
Meme kocak tentang “draft militer”

Yang bikin menarik, konten-konten ini muncul bersamaan dengan meningkatnya ketegangan nyata antarnegara besar seperti Iran dan Israel, atau Rusia dan NATO. Tapi alih-alih panik, Gen Z justru mengolah isu besar ini jadi bahan humor visual dan satir.

img_title Dari TikTok hingga Bisnis Preloved, Ini Sumber Cuan Arthada yang Gelar Pesta Ultah Rp700 Juta

Hal ini mencerminkan satu hal penting: mereka sadar situasinya serius, tapi merasa nggak punya kendali apa-apa. Jadi daripada diam dan stres, lebih baik dibuat lucu sekalian.

Respons Gen Z ini sebenarnya bukan hal baru. Mereka dikenal sebagai generasi yang mengolah trauma kolektif dari pandemi, perubahan iklim, sampai ketidakstabilan ekonomi dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Mereka bukan cuek. Justru karena peduli, mereka butuh ruang untuk melampiaskan ketegangan. Meme, fashion, dan konten satir adalah bentuk humor sebagai pelampiasan (coping mechanism). Tapi tetap ada sisi kritisnya juga.

Apakah semua ini bikin kita jadi kurang sensitif terhadap konflik sungguhan? Apakah penderitaan orang di negara konflik jadi terasa jauh hanya karena kita mengubahnya jadi template TikTok?

Apakah ini membuat kita jadi kurang sensitif terhadap konflik nyata?

Kemungkinan itu ada, terutama jika kita hanya mengikuti tren tanpa memahami konteksnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun di sisi lain, humor juga bisa menjadi cara sehat untuk mengelola rasa takut—selama tidak menghilangkan empati terhadap mereka yang benar-benar terdampak.

Apakah penderitaan orang lain terasa jauh karena dijadikan konten di TikTok?

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut