Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Pekasazi
- vstory
VIVA – Seperti yang kita ketahui bahwa generasi yang baik sangat menentukan negara di masa mendatang, akan tetapi bagaimana sebuah negara bisa maju jika kualitas generasinya tidak baik, ada banyak kasus yang menyebabkan turunnya kualitas dari seorang anak selaku generasi penerus bangsa ini, salah satunya ialah stunting.
Stunting ini mengacu pada panjang atau tinggi anak di bawah lima tahun yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh WHO (Access, 2020).
Menurut United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF), sepertiga dari anak-anak mengalami stunting. Sekitar 40% anak-anak di pedesaan mengalami stunting. (Makanan & Anak-anak, 2020) Dikutip dari (MCA).
Di Indonesia sendiri berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, stunting memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus, dan gemuk.
Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017. Tingginya angka penderita stunting menjadi indikator tingginya kasus gizi buruk di Indonesia dan sebagai bukti bahwa anak Indonesia belum sepenuhnya mendapatkan perlindungan hukum.
Kepala Badan Litbangkes, mengemukakan bahwa meski tren stunting mengalami penurunan, hal ini masih berada di bawah rekomendasi World Health Organization (WHO).
Persentase stunting di Indonesia secara keseluruhan masih tergolong tinggi, salah satunya juga terjadi di daerah Cibiru, Kabupaten Bandung Jawa Barat. Kabupaten Bandung memiliki 62 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang tersebar di 31 Kecamatan. Salah satu puskesmasnya yakni Puskesmas Cibiru Hilir yang berada di daerah Desa Cibiru Hilir. Puskesmas ini menaungi dua desa yakni Desa Cibiru Hilir dan Desa Cibiru Wetan.
Dari pemetaan dan analisis potensi yang ada salah satu kasus kesehatan yang dialami oleh masyarakat Desa Cibiru hilir dan Cibiru Wetan yakni Stunting pada balita.
Kasus stunting di daerah Cibiru ini masih perlu ditindaklanjuti, karena presentase stuntingnya masih lebih besar dari target angka stunting nasional yang dikemukakan Presiden Joko Widodo.
Pemberdayaan yang sudah dilakukan untuk menanggulangi stunting di Puskesmas Cibiru Hilir ini berupa bentuk komunitas bernama “KAPEL AKU (Kader Peduli Asi dan Kesehatan Keluarga)”.