La Nina dan Cadangan Pangan
- vstory
Inovasi dan Teknologi Tepat Guna pada Pertanian
Dampak pandemi Covid-19 dan potensi ancaman perubahan iklim terhadap pertanian sedang melanda dunia saat ini. Â Meskipun demikian di Indonesia sektor pertanian justru menunjukkan kinerja yang baik. Menurut data BPS pada Triwulan II-2020 PDB sektor pertanian tumbuh 16,24 persen (q-to-q). Demikian pula pada Triwulan-III 2021 sektor ini masih tumbuh 1,88 persen. Seluruh dunia saat itu sedang menghadapi masalah, namun Indonesia termasuk 11 negara yang mampu bertahan menghadapi Covid-19. Hal ini terkait dengan inovasi dan teknologi tepat guna pada pertanian yang masih perlu terus ditingkatkan.
Antisipasi dini terhadap iklim ekstrim telah dilakukan Kementerian Pertanian melalui berbagai upaya. Misalnya telah membuat srategi Brigade La Nina. Walaupun demikian masih perlu peningkatan dalam beberapa hal,seperti membangun sistem online EWS pada wilayah yang tepat dan melakukan koordinasi dengan BMKG untuk memetakan wilayah langganan yang berpotensi mengalami dampak iklim ekstrim (banjir dan kekeringan) serta ancaman hama penyakit pada tanaman.
Agar produktivitas hasil pertanian tidak bermasalah, perlu dilakukan inovasi untuk menampung air ketika sedang mengalami curah hujan tinggi seperti yang sedang terjadi saat ini, dengan memperbanyak embung guna menghadapi kemarau panjang sesudah ini. Langkah selanjutnya, mengembangkan varitas yang toleran terhadap perubahan cuaca ekstrim, sehingga kita dapat menggunakan benih unggul yang tahan kekeringan saat kemarau dan tahan genangan saat musim hujan.
Terakhir adalah jaminan asuransi untuk hasil panen petani. Asuransi memberikan kenyamanan dan ketenangan petani. Pemerintah juga perlu menjamin ketersedian pangan dengan membeli hasil panen petani dan bahkan menjamin akan mengganti hasil panen jika terkena La Nina.
Pemerintah sebenarnya tidak perlu banyak menyeragamkan masyarakat untuk menggunakan benih tahan banjir seperti Inpara 1 sampai Inpara 10, karenal petani-petani Indonesia sudah memiliki produk lokal yang ramah lingkungan, seperti benih padi SPI 20 dan SPI 21.
Petani bisa membenihkan padinya sendiri, tanpa harus beli ke toko atau perusahaan. Banyak petani sudah bisa melakukan penangkaran benih sendiri. Benih padi seperti ini penting dalam membangun pertanian yang agroekologi. Model pertanian ini justru mampu membantu mendinginkan suhu bumi karena ramah lingkungan.