Menanti Hasil Tes PISA 2022

Sumber :OECD
Sumber :
  • vstory

Pemerintah India tidak terima India mendapat ranking 74 dari 76 negara pada saat itu.  Langkah pemerintah India ini menuai banyak kecaman dari ahli pendidikan dalam negeri India.

img_title Terungkap, Penyadapan terhadap Presiden Prabowo Diduga Berlangsung Sejak 2025

Menurut mereka tes ini sangat penting untuk membuka dan memperlihatkan faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakmampuan siswa-siswa di India terutama di bidang literasi, di mana angka melek huruf India hanya di kisaran 61 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Atas banyaknya desakan tersebut, Menteri Human Resource Development India mengakhiri boikot terhadap PISA dan akan mengikuti tes PISA di tahun 2022 ini. 

img_title Longsor dan Banjir di Lumajang, Pemkab Tetapkan Status Tanggap Darurat

Pemerintah Indonesia konsisten mengikuti tes PISA meskipun selama dua puluh tahun terakhir belum beranjak dari ranking sepuluh terbawah. Pemerintah Indonesia selalu legowo menerima hasil tes PISA dan melakukan perubahan-perubahan yang dianggap perlu berdasarkan saran- saran OECD tersebut.

Perubahan kurikulum juga mengacu pada hasil tes PISA ini, bahkan keputusan menghapus UAN dan menggantinya dengan Asesmen kompetensi dan karakter tidak lain dan tidak bukan adalah berbasis hasil tes PISA 2018 dan juga menyesuaikan dengan model tes PISA.

img_title Ekosistem Tumbuh Pesat, Persaingan di Industri Perjalanan Haji dan Umrah RI Makin Ketat

Peluncuran kurikulum Merdeka juga adalah salah satunya berdasarkan  kesimpulan hasil-hasil tes PISA bahwa selama dua puluh tahun pendidikan kita jalan di tempat.

Tes Pisa tahun 2022 ini akan diikuti oleh 30 negara OECD dan 50 negara partner. Pemerintah dalam hal ini Kemdikbudristek diawal kepemimpinan Nadiem Makarim menerima hasil tes PISA tahun 2018 dengan posisi ranking 74 dari 79  negara.

Pada waktu itu Mendikbud dengan optimistis menyambut hasil tes PISA tersebut. Sejumlah terobosan pun dilakukan, menghapus UAN, menyederhanakan RPP, dan terakhir meluncurkan kurikulum Merdeka dan masih banyak lagi.

OECD sebagai penyelenggara PISA juga sebenarnya mempunyai tanda tanya yang besar, mengapa ranking PISA  cenderung konstan dalam artian negara-negara yang peringkat atas, tengah dan bawah juga selalu ditempati oleh negara-negara yang itu-itu saja.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lembaga itu kemudian menduga ada faktor penentu yang menyebabkan skor PISA cenderung seperti itu,  OECD menduga bahwa ada satu faktor penentu yaitu faktor Mindset.

Untuk itu pada tes PISA  2018 OECD menyelipkan satu tes tambahan yang melihat mindset guru, dan siswa, bagaimana hasilnya apakah berbanding lurus dengan pencapaian skor siswa pada tes tiga kemampuan dasar tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut