Pseudo Pendidikan di Masa Pandemi
- vstory
Pada pembelajaran daring, pseudo pendidikan telah terjadi di hampir semua negara. Migrasi kelas tradisional tatap muka ke platform daring yang tiba-tiba akibat pandemik Covid pada awal 2020 telah menciptakan tsunami di dunia pendidikan. Hampir semua negara kelabakan dengan situasi yang tiba-tiba ini.
Bagi negara maju sekelas Singapura mereka pun kelabakan meskipun pada akhirnya cepat menyesuaikan diri. Praktik-praktik Pseudo telah terjadi selama pembelajaran daring yang tentu saja membuat pendidikan berjalan semu. Tidak bisa dipungkiri, tatap muka dalam kelas tetap memiliki roh pendidikan yang nyata ketimbang di ruang-ruang online. Siswa tetap butuh kehadiran guru. Bahkan siswa banyak yang mengeluh, jika hanya ingin tahu tentang sesuatu maka di Google semua ada.
Mereka butuh kehadiran guru dan berinteraksi dengan teman-sekelasnya. Bahkan banyak siswa termasuk juga mahasiswa baru yang belum pernah ketemu secara fisik dangan guru dan dosen selama dua tahun ini. Efeknya tentu saja dirasakan secara psikologi, tidak ada kedekatan pribadi dan sosial diantara mereka.
Mereka kehilangan sosok guru yang bisa memberikan nasihat dan pembinaan karekter, intinya siswa-siswa merasa mereka lebih suka face to face ketimbang menatap layar HP dan laptop.
Beberapa kasus pseudo atau pendidikan semu selama pelajaran daring dua tahun marak menghiasi pemberitaan. Mulai dari siswa yang bosan dan mencari trik supaya seolah-olah tetap ada di kelas-kelas online, pekerjaan rumah yang dikerjakan oleh orang lain, guru yang hanya memberi tugas tanpa penjelasan yang memadai, dan masih banyak lagi. Masalah-masalah tersebut berpotensi membuat tujuan pendidikan tidak tercapai.
Perlu Blended learning
Melihat maraknya praktik-praktik pseudo dalam pendidikan selama kelas daring, sudah saatnya semua sekolah menerapkan blended learning, di mana tatap muka tetap berlangsung walaupun tidak seratus persen.
Diharapkan kekosongan psikologi dan interaksi sosial, antar guru dan siswa dan siswa dengan siswa bisa terjadi sehingga proses belajar tercapai. Covid belum berakhir, WHO belum juga mengumumkan bahwa dunia sudah bebas dari Covid. Yang terjadi justru Covid rajin beranak pinak dan berganti rupa. Dunia pendidikan lah yang dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ini.