Sketsa Ramadhan: Israel, Hentikan Politik Apartheid Kalian!

Polisi Israel
Polisi Israel
Sumber :
  • vstory

VIVA - Ada sebuah kejadian menarik di perbatasan pemukiman Palestina-Israel. Seorang bocah lelaki berjalan menyusuri tepian tembok tinggi dengan punggung menyandang ransel. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Sang bocah menoleh ke belakang dan melihat sebuah bola kaki kumuh yang didekatinya dengan perhatian penuh. Dengan hati-hati disepaknya bola itu dengan kaki kiri, seraya badannya bergegas menjauh. Tak ada ledakan. Aman.

Sang bocah mengambil bola, ditendangnya setinggi mungkin agar melewati dinding. Berhasil. Dia lanjutkan berjalan. Sejenak kemudian terdengar lagi suara benda jatuh di belakangnya. Ajaib, bola kaki itu kembali! Sang bocah menyeringai: ada seseorang di seberang tembok yang mengajaknya bersantai. Diperhatikannya hamparan tembok panjang, eh, ada lubang sebesar kepala di satu bagian tak jauh dari tempatnya berdiri. Sang bocah mengintip. Dari ujung lubang muncul kepala bocah lain seumuran, menatap tanpa kedip. Mereka berkenalan. Anak Israel yang bersih rapi adalah Nathan, sang bocah Palestina bernama Khaled dengan penampilan berantakan.

Hari-hari selanjutnya mereka bermain melalui lubang tembok. Dari tarik tambang, saling menggelitik gunakan ranting zaitun, atau bermain kartu remi penuh olok-olok. Selalu gembira dan tertawa. Sampai satu hari ketegangan Israel-Palestina memuncak, sirene berulangkali menyalak galak. Nathan menyuruh Khaled pergi dan bersembunyi. Dia sendiri melesat pulang dan masuk bunker keluarga. Setelah suasana normal, Nathan datang lagi ke lubang dinding ingin tahu keadaan kawannya. Namun kali ini tak bisa: lubang dinding sudah diplester semen dan tertutup sempurna.

Kisah ini, sayangnya, bukan kejadian nyata. Ini film pendek 12 menit berjudul Over The Wall karya Roy Zafrani, alumnus jurusan film UCLA, yang menjadi penulis skenario dan sutradara. Dua aktor cilik Adi Weiss (Nathan) dan Assi Goffer (Khaled) bermain gemilang menghidupkan skenario imajinasi Roy (mendapat penghargaan Best Screenplay di LA Indie Film Fest 2017).

Kenyataannya, skenario dalam kehidupan asli tak pernah seharmonis itu di Tanah Palestina. Apalagi setelah Jumat lalu (15/4), Tentara Israel merangsek kaum muslimin yang hendak salat Subuh di Masjid Al Aqsa—masjid suci ketiga bagi umat Islam--dan menekan selama tiga jam yang mencekam. “Kami sudah di dalam masjid siap ibadah subuh ketika mereka menyerang duluan,” ujar Sanaa Harfoush, perempuan warga Yerusalem Timur. “Jamaah melawan.”

Israel punya versi sendiri. Mereka bilang lebih dulu diprovokasi pemuda Palestina yang melempar batu dan petasan. Tindakan itu mereka balas dengan tembakan peluru karet, granat setrum ( stun grenade) dan gas air mata. Ketika kedua kelompok berhadapan dalam jarak dekat, tentara Israel mengamuk menggebuk jamaah dengan pentungan, baik yang masih di luar masjid maupun di dalam ruang salat. Sedikitnya 150 orang Palestina terluka.

Insiden yang terjadi di bulan suci Ramadan--bertepatan dengan pekan ibadah Paskah umat Nasrani serta Paskah Yahudi ( Passover)--sontak mendulang kritik pedas dunia internasional. “Indonesia mengecam keras aksi kekerasan bersenjata aparat keamanan Israel terhadap terhadap warga Palestina di komplek Masjid Al Aqsa yang memakan korban jiwa dan luka-luka. Tindakan kekerasan terhadap warga sipil tersebut tak dapat dibenarkan dan harus segera dihentikan, apalagi dilakukan di tempat ibadah masjid Al Aqsa di bulan suci Ramadhan,” ujar Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Aksi provokatif itu menambah panjang bukti cengkeraman politik apartheid opresif Israel terhadap rakyat Palestina. Israel menerapkan apartheid? Apa iya? Bukankah politik segregasi dan diskriminasi rasial itu biasanya dinisbatkan kepada Afrika Selatan dan Afrika Barat Daya (sekarang Namibia) yang mempraktikkannya dari 1948 sampai awal 1990-an? “(Apartheid) Israel lebih buruk, mereka membangun tembok penyekat yang tak ada di Afrika Selatan,” ujar Uskup Desmond Tutu dalam wawancara di tahun 2012.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.