Sketsa Ramadhan: The Green Queen Nana Firman yang Rajin

Nana Fitriana Firman, salah seorang pendiri Global Muslim Climate Network dan Senior Ambassador di GreenFaith
Nana Fitriana Firman, salah seorang pendiri Global Muslim Climate Network dan Senior Ambassador di GreenFaith
Sumber :
  • vstory

VIVA - Sosok perempuan Indonesia yang namanya berkibar di dunia internasional semakin banyak dari tahun ke tahun. Salah satunya adalah Nana Fitriana Firman, 51 tahun, salah seorang pendiri Global Muslim Climate Network dan Senior Ambassador di GreenFaith, organisasi jejaring lintas agama untuk pelestarian lingkungan hidup dan penanggulangan krisis iklim. Perempuan berdarah Minang ini bermukim di Riverside, California, sejak 2012, bersama suaminya Jamal Yusuf Ali, seorang veteran marinir Amerika Serikat.

Ketika saya hubungi dua hari lalu untuk topik SKEMA [Sketsa Ramadhan] hari ini--bertepatan dengan Hari Kartini—Nana bilang sedang sibuk sampai weekend. “Muslim, nonmuslim, semua requests. Jadwal saya padat sekali karena Hari Bumi—jatuh pada Jumat, 22 April, besok—jadi banyak sesi back to back. Plus harus menyiapkan materi,” katanya sembari menginformasikan sedang bersiap-siap menjadi pembicara di Santa Clara University, sebuah kampus swasta Katolik. Topik yang dikulik “Spirit Moving: Interfaith Panel on Climate Action” dengan panelis selain dirinya (perspektif Islam) adalah Michal Strutin (Yahudi) dan Anna Robertson (Katolik).

Penerima penghargaan Alfredo Sirkis Memorial Green Award (2020) dari mantan Wakil Presiden AS Al Gore dan White House Champion of Change (2015) yang diberikan langsung oleh Presiden Barack Obama di Gedung Putih ini memang sudah kepincut mendalami lingkungan hidup sejak kecil. “Saya anak perempuan hutan ( daughter of the forest) dan percaya bahwa masa depan hutan sangat menentukan masa depan bumi kita,” kata Nana mengenang kelahiran di Jambi dan masa kecil yang dihabiskannya di lingkungan hijau asri.

Setelah itu keluarganya pindah ke Jakarta, kota di mana Nana merasakan kekaguman dan keprihatinan berbaur jadi satu. “Arah pembangunan Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia mencemaskan karena kurang mempertimbangkan aspek lingkungan dengan sungguh-sungguh,” katanya. Maka lulus SMA dia putuskan menimba ilmu bidang Industrial Design (Desain Industri) di Universitas Bridgeport, Connecticut, dan melanjutkan S2 bidang Urban Design (Desain Perkotaan) di Pratt Institute, New York.

“Ketika terjadi tsunami Aceh dan Nias pada 2004 saya diberi kesempatan oleh lembaga konservasi terbesar di dunia yakni WWF ( World Wildlife Fund) untuk memimpin Rekonstruksi Hijau selama masa pemulihan pasca bencana,” katanya. Nana dan tim mengembangkan inisiatif adaptasi dan mitigasi iklim.

“Kondisi di Aceh pasca tsunami sangat parah. Sekitar 500.000 penduduk kehilangan rumah. Semua ingin punya rumah secepatnya dan program pemulihan dikebut. Tapi pembangunan rumah membutuhkan kayu dari hutan. Tugas saya untuk menjaga agar kebutuhan besar itu tidak mengganggu keseimbangan ekologis dan lingkungan tidak terganggu,” lanjutnya. Untuk itu Nana pun melibatkan para pemuka agama Islam setempat dalam membuat rencana ketahanan ( resilience) iklim dan lingkungan.

Rekonstruksi Hijau membuat Nana tak hanya menggunakan referensi lingkungan hidup berdasarkan khazanah literatur Barat yang selama ini digelutinya, melainkan juga menyelami samudera ajaran agama Islam, khususnya fiqh bi’ah (fikih lingkungan hidup) sebagai inspirasi.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.