Sketsa Ramadhan: Pamit Abadi Mbak Ikit
- vstory
Komunikasi kami dua tahun terakhir cukup intens, meski kami belum pernah bertemu dan bicara tatap muka. Awalnya, saya mengenal Mbak Ikit melalui tulisan-tulisannya di mailing-list Jurnalisme yang dikelola admin Farid Gaban, Dandhy Dwi Laksono, dan Suwandi Ahmad, sekitar tahun 2012. Mbak Ikit termasuk anggota yang aktif posting di milis itu. Dia acap berbagi pengalaman membangun The Brunei Times dan menjadi wakil pemimpin redaksi harian di negeri jiran tersebut. Sementara sebagai kritikus sosial dan penulis opini, pendapat-pendapatnya selalu tajam tanpa takut dalam mengkritisi rezim dan policy yang dijalankan.
Saya baru mengerti mengapa Begawan Sastra Indonesia, Prof. Dr. Budi Darma (1937-2021) dalam obrolan dengan saya di awal tahun 2000-an pernah memuji Mbak Ikit sebagai muridnya yang hebat. “Bakat Sirikit sebagai prosais sangat besar. Tapi tampaknya dia lebih menyukai dunia jurnalisme dan menulis sajak. Tidak apa-apa juga,” ujar Pak Bud. “Kemampuan menulisnya itu sangat membantu karier jurnalistiknya.”
Waktu itu Mbak Ikit juga menjadi penerjemah. Salah satu buku yang dialihbahasakannya ke dalam bahasa Indonesia adalah Biografi Muhammad karya Karen Armstrong yang menjadi global best seller. Setahun kemudian, Mbak Ikit menerjemahkan karya David T. Hill dan Krishna Sen dengan judul Budaya, Media, dan Politik di Indonesia.
Kemampuan menulis dan menerjemahkan bahasa Inggris dimatangkannya saat menjadi mahasiswa pascasarjana di University of Westminster, London, Inggris (2002). Setelah itu dia malang melintang magang dan bekerja di beberapa media massa di negeri tempatnya menuntut ilmu dan Amerika Serikat. Sedangkan gelar doktor ilmu bahasa diraihnya dari Universitas Negeri Surabaya melalui disertasi berjudul “Naming and Labelling in Terrorism News Report” (2018).
Mbak Ikit sudah melangkah jauh dari awal kariernya sebagai. wartawati Surabaya Post (1984-1990, 2007), SCTV-RCTI Biro Surabaya (1990-1996), dan The Jakarta Post (1996-2000). Di tahun 1999, Mbak Ikit mendirikan Lembaga Media Watch dan belakangan Sirikit School of Writing (2012).
Di luar kiprah sebagai jurnalis, Mbak Ikit aktif bertungkus lumus dengan komunitas seniman Surabaya. Dia pernah menjadi Ketua Bengkel Muda Surabaya, Ketua Biro Sastra Dewan Kesenian Surabaya, dan Ketua Presiden Dewan Kesenian Surabaya. Sampai akhir hayatnya ketika kondisi kesehatannya sudah menurun jauh, Mbak Ikit tetap aktif sebagai penasihat/pembina di Bengkel Muda Surabaya dan Dewan Kesenian Surabaya.