IMM dan Gerakan Kepemudaan di Indonesia
- vstory
VIVA – Peran pemuda dalam mengawal kehidupan bangsa dan negara tidak bisa diragukan lagi, pemuda sebagai patron kehidupan selalu memiliki torehan untuk disuguhkan. Peran pemuda ini bahkan benar-benar mampu mengguncangkan dunia sesuai dengan apa yang dikatakan bung Karno “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, dan beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia”.
Dalam nostalgia sejarah Indonesia, pada tahun 1800-an berbagai gebrakan yang dilakukan kaum pemuda menghantarkan kehidupan bangsa kita pada tarap yang dipenuhi spirit kebersamaan dan kebersatuan, puncaknya mampu dilihat sampai pada tahun 1928 dengan berkumpulnya pada aktivis pemuda yang mampu menjadi representasi berbagai wilayah di Indonesia yang bersama sama mengikrarkan "Sumpah Pemuda"
Di tegah heterogennya bangsa ini pemuda mampu menghimpun kekuatan dalam menyatukan visi perjuangan pada masa bangsa ini terjajah dahulu. Semangat pemuda mampu menggelorakan semangat bersama hingga mampu mewujudkan kemerdekaan.
Pemuda juga hendaknya sadar bahwa mereka adalah harapan sekaligus ujung tombak pembangunan suatu bangsa. Pemuda-pemuda memiliki andil sebagai agen perubahan yang berarti pemuda memiliki peran untuk menjadi pusat dari kemajuan Bangsa dan Negara
Dalam konteks Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), IMM sebagai organisasi yang secara nomenklatur keanggotaannya adalah kalangan mahasiswa dan mahasiswi yang juga merupakan golongan pemuda patutnya mampu menyadari berbagai potensi peran aktifnya. IMM yang dalam konteks ini bisa kita katakan sebagai organisasi pemuda harus mampu melihat secara mendalam dan terlibat di dalam mekanisme penyelesaian permasalahan sosial yang selalu dan semakin dinamis.
Bahkan lebih jauh, IMM tidak hanya terlibat tapi menjadi center gerakan pemuda yang dilalui lewat persebaran kader - kadernya di masyarakat. Secara teknis misalnya, yang kita bicarakan adalah dengan proses melalui IMM, setiap mereka yang terdaftar baik secara administratif maupun relasi kegiatan bakal mampu menyalurkan berbagai pengalaman kerja organisasinya ketika sudah kembali ke aktivvitas kesehariannya di lingkungan masyarakat.
IMM mampu menjadi laboratorium yang besar yang berisikan kader - kader yang tidak hanya ahli dalam menyiasati setiap wacana keilmuan atau pemberdayaan, tapi mampu menerapkannya di lingkungan keluarga, RT, RW, desa bahkan sampai lingkup luas lagi. Bagi kader yang mungkin hadir dan menetap pada lingkaran instansi dari pemerintah, pendidikan, penelitian, atau bahkan politik, IMM selalu menemui penyesuaiannya sebagai patron gerakan yang implementatif yang menguasai bidang keilmuan konsentrasinya dan meleraikan setiap masalah, bukan sebaliknya.