Psikologi Agama dalam Kehidupan

ilustrasi oleh pixabay.com
Sumber :
  • vstory

VIVA – Seperti kata Karel Amstrong dalam bukunya Sejarah Tuhan, agama merupakan fenomena universal manusia, siapapun dan dimanapun agama menjadi hal yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Bahkan kalau mau ditelusuri lebih jauh, perbincangan soal agama secara umum adalah perbincangan yang bisa dilakukan tanpa mengenal batas seperti waktu, tempat, situasi atau kondisi apappu, bicara agama dan kehidupan manusia akan selalu berjalan menemui relevansinya.

Terungkap, Ini Alasan Adolf Hitler Membantai Jutaan Orang Yahudi

Dalam perjalanannya seiring berjalannya waktu, perubahan sosial yang terjadi di masyarakat secara langsung mengubah orientasi dan makna agama, namun demikian perubahan semacam ini tidak sampai pada menghilangkan eksistensi agama, maka kajian tentang agama akan selalu berkembang dan menunjukkan konsistensinya menjadi hal yang penting apalagi jika dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Sifat agama yang universal dalam masyarakat memberikan ruang tersendiri bagi kajian masyarakat secara utuh, sebab melihat agama sebagai faktor dalam kajian masyarakat adalah salah satu metode yang melengkapi kajian-kajian tersebut, sebaliknya kajian atau penelitian yang berkaitan dengan masyarakat akang terlihat kurang utuh apabila tanpa melibatkan faktor agama.

KUA untuk Nikah Semua Agama, Menag Yaqut Optimis Dapat Dukungan Banyak Orang

Pembahasan mengenai agama sebagai suatu keyakinan yang dianut dan masyarakat menjadi hal yang akan terus mampu bergulir, hal ini juga dikarenakan proses perkembangan manusia itu sendiri yang terus menemui jalannya. Sudut pandang yang digunakan dalam perbincangan agama dan masyarakat pun beragam, agama mampu dilihat dari segi teologis, sosiologi, psikologi antropologis, agama selalu memiliki konteks untuk terkait di dalamnya.

Agama sebagai konsep berjalan terus menerus mengikuti pemahaman manusia atas ajaran agama itu sendiri dan berfungsi menghidupi kehidupan manusia. Tanpa agama manusia akan kehilangan unsur utama di dalam jati dirinya yang penuh dengan kemisteriusan, mengenal agama adalah laku mengenal siapa diri kita dengan mendalam dan menafsirkan berbagai hal yang Tuhan senantiasa curahkan melalui Nur dan ciptannya di dunia. Mengenali agama, adalah cara mengenali lebih jauh siapa kita dan sumber kita semuanya.

Bamsoet Minta Kemenag Optimalkan Rencana KUA Catat Nikah Semua Agama

Psikologi Agama

Psikologi dalam bingkai kemasyarakatan lebih dalam akan berbicara tentang apa yang menjadi gejala kejiwaan, faktor apa yang mempengaruhi berlaku sesuatu, atau apa yang didapati berdasarkan pengalaman empirik. Sedangkan agama dalam memandang masyarakat lebih bersifat Illahiyah (ketuhanan) atau transenden.

Agama melihat bahwa setiap fenomena yang ada di masyarakat adalah fenomena yang didasari adanya unsur ketuhanan, agama juga memberikan pengertian bahwa setiap laku dan kerja kehidupan yang dilakukan masyarakat adalah sebagai bentuk kepercayaannya terhadap suatu agama.

Lebih lanjut psikologi adalah seperangkat cabang ilmu pengetahuan yang konsentrasinya hadir pada kajian tentang gejala-gejala kejiawaan dan tingkah laku yang keliatan nyata.

Dalam kajian ini, perilaku objek melalui tingkah laku nyata dapat di observasi secara langsung dan non abtraks, oleh karena itu, ilmu tentang psikologi merupakan bentuk kajian yang bersifat objektif empiris. Psikologi juga serangkaian metodologi yang mengkaji bagaimana tingkah laku manusia sebagai suatu manisfestasi apa yang dia alami dan rasakan yang membentuk kondisi kepribadian, hal ini sengat erat kaitannya dengan pengaruh lingkungan hidup, budaya, pendidikan dan yang utama Agama.

Dimensi agama adalah mengakui bahwa setiap yang terjadi di masyarakat dan di kehidupan adalah soal sejauh mana peran dan tanggung jawab kita sebagai manusia yang terikat dengan norma agama menjalankannya, berbagai hal yang menjadi laku dan kerja manusia di setiap akhirnya berujung pada perhitungan – perhitungan non materil yang bedasarkan petunjuk berupa kitab suci.

“Psikologi Agama” merupakan paduan dari dua dasar kata yang memiliki artinya tersendiri. Psikologi mengandung arti studi yang berfokus pada gejala kejiwaan yang ada di manusia, psikologi sebagai kajian yang ilmiah memiliki sifat dasar teori empirik serta sistematis. Berbeda dengan psikologi, agama justru lebih condong pada fenomena cara-cara bertingkah laku, berperasaan yang dilandasi dengan keyakinan, agama merupakan sekumpulan nilai atau keyakinan yang dianut oleh masyarakat yang menjadi patokan dalam berkehidupan.

Pengertian mengenai psikologi agama di kemukakan oleh Prof. Dr. Zakiah Darajat, bahwa psikologi agama adalah cabang ilmu yang meneliti tentang pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku manusia serta mekanismenya dalam bekerja dalam diri seseorang.

Sebab pengaruh yang didapati atas hadirnya agama pada perilaku manusia tentu sangat signifikan. Cara berpikir, bersikap, berekspresi serta bertingkah laku seseorang individu tidak dapat mampu dipisahkan dari unsur keyakinannya, dan agama menjadi keyakinan yang sangat diamini. Lebih jauh dalam unsur kelompok pun demikian, agama menjadi konstruksi kepribadian individu dan kelompok dalam menjalani berbagai aktivitas kehidupan.

Sementara itu Jalaluddin Rahmat, mendefinisikan psikologi agama sebagai cabang ilmu yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan tersebut dilakukan melalui pendekatan psikologi.

Psikologi agama kata Syaiful Hamali mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama seseorang. Di mana manusia berupaya menyembuhkan gangguan kejiwaannya melalui ajaran-ajaran agama, karena agama menawarkan suatu hubungan transendental terhadap sesuatu melalui pemujaan dan upacara-upacara keagamaan yang memberikan dasar emosional bagi rasa aman dan identitas yang lebih kuat di tengah ketidakpastian, ketidakmungkinan dan kelangkaan yang dialami manusia dalam hidup dan kehidupannya.

Psikologi agama sebagai perangkat keilmuan sejalan dengan ruang lingkup pembahasannya mampu memberi sumbangsih dalam ikut serta menyelesaikan persoalan kehidupan manusia yang makin kompleks, khususnya kaitannya dengan agama dan pahamnya yang dianut menjadi keyakinan.

Selain itu, rasa keagamaan yang tumbuh dan berkembang pada setiap insan pribadi dalam tingkat usia tertentu, bagaimana perasaan keagamaan itu berpengaruh dalam ketenteraman batin manusia, atau konflik yang terjadi dalam diri seseorang sampai pada pribadi yang taat menjalankan ajaran agama atau sebaliknya meninggalkan ajaran agama itu merupakan fenomena yang didapati dalam psikologi agama ini.

Psikologi agama selanjutnya mampu memberikan gambaran yang proposional atas pengaruh paham dan keyakinan beragama yang mendorong masyarakat dapat hidup saling menghormati antar pemeluk agamanya. Hal ini tentu mengarah pada terwujudnya kehidupan yang selaras dengan kerukunan antar umat agama dan lintas agama. Melalui psikologi agama, dengan memahami perilaku keagamaan yang didukung motif tertentu, pendampingan dan pembimbingan manusia sebagai umat beragama mampu dilakukan dalam mewujudkan kehidupan yang selaras tersebut. (Muhamad Ikhwan Abdul Asyir, Manajer Program Al Wasath Institute, Formatur DPD IMM Jawa Tengah 2022)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.