Bagaimana Masa Depan Rupiah Digital?

Ilustrasi
Sumber :
  • vstory

VIVA – Sistem Bretton Woods bubar pada tahun 1976 setelah beberapa negara di Eropa mengalami kehancuran ekonomi sehingga tidak lagi bisa menjadi partner perdagangan Amerika Serikat, di samping itu resesi ekonomi dunia yang berlangsung besar-besaran pada periode waktu itu telah mendorong negara-negara di dunia untuk mengedepankan kepentingan nasionalnya masing-masing

img_title Rupiah Melemah ke Rp 17.697 usai Laporan soal Defisit Neraca Transaksi dan Kredit Perbankan Juli 2026

The Fed tergiur mencipta dollar melebihi kapasitas emas yang dimiliki. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan masyarakat dunia terhadap dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal tersebut ditandai dengan peristiwa penukaran dollar secara besar-besaran oleh negara-negara Eropa.

img_title Keseimbangan Regulasi dan Inovasi Berkelanjutan Bisa Dongkrak Perkembangan Aset Kripto

Adalah Prancis, pada masa pemerintahan Charles de Gaule, negara yang pertama kali menentang hegemoni dollar dengan menukaran sejumlah 150 juta dollar AS dengan emas.

Tindakan Prancis ini kemudian diikuti oleh Spanyol yang menarik sejumlah 60 juta dollar AS dengan emas. Praktis, cadangan emas di Fort Knox berkurang secara drastis.

img_title Gandeng Bank INA, Indodax Permudah Member Akses Layanan Perbankan Digital

Bretton Woods II

Ujungnya, secara sepihak, Amerika membatalkan Bretton Woods System melalui Dekrit Presiden Nixon pada tanggal 15 Agustus 1976, yang isinya antara lain, USD tidak lagi dijamin dengan emas. ‘Istimewanya’, dollar tetap menjadi mata uang internasional untuk cadangan devisa negara-negara di dunia. Pada titik ini, berlakulah sistem baru yang disebut dengan floating exchange rate.

Bayangkan sejak 1976 USD tidak lagi dilindungi nilainya oleh emas. Nilai integritas nya turun terus.

Akibat nya rupiah yang sekarang terdepresiasi terhadap USD, akhirnya mengalami dobel impact, dari depresiasi dan dari turun nya nilai USD.

Contohnya harg Avanza tahun 2010 masih Rp 150 juta sekarang harganya di atas Rp 250 juta

Bretton Woods III

Sejak 2022 ini Rezim moneter USD mengalami perubahan ke-3 yaitu

• USD terus menerus dicetak, caranya anggaran belanja USA defisit sehingga mereka mencetak USD keperluan defisit impor, misalnya terhadap impor produk Tiongkok, dll.

• Karena perdagangan petro dollar semakin habis, dalam 20 tahun BBM habis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

• Maka USD tidak lagi ada basis nya. Alhasil seperti zombie, tak bernyawa. Sehingga untuk mempertahankan nilainya USD, make caranya adalah create and destroy.

• Mulai 2022 G7 memutuskan pada bulan lalu, untuk menyita cadangan devisa negara Russia sebesar USD 600 billion.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut