Membuat Film Dokumenter sambil Belajar Sejarah

Sebagian pemain film dokumenter foto bersama sesaat setelah sesi nyuting film. (foto dokumentasi : Muhammad I’mad Hamdy)
Sebagian pemain film dokumenter foto bersama sesaat setelah sesi nyuting film. (foto dokumentasi : Muhammad I’mad Hamdy)
Sumber :
  • vstory

VIVA – Guru atau pendidik selalu ingin membuat siswanya senang dan antusias dalam mengikuti materi pelajaran yang disampaikan ke siswanya. Apalagi untuk mata pelajaran yang kebanyakan waktunya untuk bercerita atau metode ceramah, sejarah salah satunya.

Memilih model pembelajaran yang menyenangkan menjadi pilihan pertama sebelum mentransfer ilmu ke siswa. Sungguh hal yang biasa bila materi sejarah hanya disampaikan dengan ceramah ini akan berdampak pada siswa. Siswa akan merasa bosan dan jemu mendengarkan guru berceramah/bercerita. Bukankah, hakikat belajar sejarah itu mengambil pelajaran masa lalu guna diterapkan untuk masa kini dan sebagai pijakan untuk membangun masa depan yang lebih baik. 

Salah satu model yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran sejarah adalah dengan meaningfull Learning (pembelajaran bermakna). Seperti yang dilakukan Muhammad I’mad Hamdy, S. Pd., guru Sejarah SMAN 1 Taman Sidoarjo yakni siswa diajak langsung merasakan peristiwa sejarah dalam pembuatan film dokumenter, dengan begitu siswa mampu mengaitkan konsep-konsep yang telah dipelajari dengan pengalaman yang terjadi dalam hidupnya. Tentu hal ini juga akan menambah pengalaman siswa, tidak hanya terkait konten sejarah saja, tetapi juga mengasah siswa dalam bekerja sama dan bergotong royong dalam tim produksi proyek film dokumenter.

Materi peristiwa sejarah yang bisa diterapkan untuk film dokumenter juga sangat beragam, salah satunya materi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Materi ini juga mengandung muatan perjalanan perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan, tentu akan menumbuhkan rasa nasionalis pada diri siswa.

Dalam pelaksanaan projek pembuatan film dokumenter ini, guru terlebih dulu membagi siswa ke dalam kelompok tim produksi yang terdiri dari koordinator produksi (bertugas mengkoordinir/menyutradarai film), talent (aktor), wardrobe & property (bertugas menyiapkan busana dan peralatan dalam proses shooting), editing & marketing (bertugas pasca produksi film dan menyiapkan penanyangan film dalam kelas). Dalam penyusunan tim produksi ini, siswa diberikan keleluasaan untuk memilih joobdeks sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing, dengan begitu pembelajaran ini juga bersifat insklusif atau berdiferensiasi.

Setelah membuat tim produksi, guru memberikan stimulus kepada siswa untuk melakukan riset terkait peristiwa, tokoh, latar belakang dan latar tempat. Contohnya “Siapa saja tokoh yang terlibat dalam peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan apa sajakah perannya ?” tahapan ini berguna untuk siswa dalam menyusun naskah dan alur film. Setelah itu barulah siswa menyusun naskah dengan memperhatikan sumber-sumber sejarah yang telah didapatkannya melalui tahapan riset sebelumnya.

Hal selanjutnya melakukan tahapan pra produksi film, siswa mencari lokasi dan mempersiapkan property yang akan digunakan termasuk tolls alat rekam. Tidak harus menggunakan kamera DSLR atau mirrorless, siswa juga bisa menggunakan kamera ponsel. Jika tahapan pra produksi sudah dilalui, maka tahap selanjutnya adalah produksi film dokumenter. Tim produksi yang telah dibagi jobdesk-nya menjalankan sesuai arahan koordinator produksi. Setelah tahapan produksi selesai, berlanjut pada tahap pasca produksi dengan melakukan editing video yang sudah diambil dan juga menyiapkan platfrom untuk mempublikasikan film seperti YouTube, dan juga menyiapkan penayangan di kelas dengan membuat poster.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.