Sulitnya Ekonom Menembus Tembok Oligarki

Ilustrasi oligarki
Sumber :
  • vstory

VIVA - Pengamat ekonomi Indonesia saat ini belum ada yang mampu menembus tembok kekuasaan oligarki. Paling hanya segelintir seperti Kwik Kian Gie, Christanto Wibisono (Alm), George Aditjondro (Alm), dan Prof AB Susanto (Alm).

img_title Ekonom Ungkap 6 Agenda Reformasi Guna Akselerasi Pertumbuhan 8 Persen

Tanpa bisa melihat akses di balik tembok konglomerat, ya dari luar, kita hanya melihat indikator Indonesia secara Makro. Pengamat seperti Faisal Basri, Rizal Ramli hingga Profesor ahli di Universitas Indonesia pun banyak yang tidak bisa melihat the unseen, isinya di dalam tembok konglomerat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ibarat film kungfu, jagoan Ip man berantem di dalam ruangan yang pintu nya ditutup. Gedebak gedebuk kita tahunya salah satu pemenang keluar. Yang bonyok masih di dalam.

img_title Ekonom Ungkap Dampak dari Keputusan S&P Global Pertahankan Peringkat Utang RI

Karena mereka ada the missing piece, maka tidak pernah bisa melihat baik. Itu ibarat gambar lukisan tapi kurang satu puzzle.

Kenapa ekonom tidak bisa menembus tembok konglomerat?

img_title Konsesus Ekonom Proyeksikan BI Pertahankan Suku Bunga Acuan, Ini Alasannya

Kekuasan dipegang segelintir pemilik kapital. Jumlahnya konglomerat sedikit. Bisa dihitung dengan jari. Sifat kekuasaan mereka adalah keluarga. Walaupun Salim group itu perusahaan raksasa, namun tetap perusahaan keluarga. Jadi kalau bukan keluarga, Walaupun kita profesor pun tidak bisa menembus.

Kedua, hubungan besan di antara mereka pun terbatas. Misalnya besannya Pemilik Astra dan kelompok Kalbe Farma. Atau besannya Djarum Group dengan Wings group. Besannya Lippo group dengan Mayapada dan RS Siloam ABC group.

Apabila pengamat ekonomi tidak menembus tembok kekuasaan oligarki, maka pengamat tidak paham kehendak konglomerat. Sehingga mereka tidak bisa menggambarkan gerakan konglomerat. Otomatis semua gerakan konglomerat berjalan senyap. Luput dari sorotan.

Menurut teori Milton Friedman, sekali lagi, rezim moneter sudah melakukan jumlah suplai uang beredar bertambah. Akibatnya pemain bisnis besar akan cenderung terus menerus membutuhkan jumlah suplai uang bertambah besar. Otomatis perilaku mereka mirip dengan orang misqueen. Bedanya yang misqueen lapar. Sedangkan konglomerat terjerat utang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bukankah mereka punya public relation?

Itu dulu. Sekarang tugas PR manager di sana adalah menutup berita. Misalnya, sempat Anton Salim memposting hadiah ulang tahunnya yaitu produk baru citato rasa indomie goreng. Langsung bagian PR manager bertugas meredam berita. Sebab launching produk harus melalui izin BPOM.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut