Euforia Politik Indonesia

Jokowi saat kampanye di Pilpres 2019  (Foto/Antara)
Jokowi saat kampanye di Pilpres 2019 (Foto/Antara)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

VIVA – Pemilu masih dilaksanakan dua tahun lagi, tetapi pembicaraan tentang politik menjadi bahan yang hangat untuk dibahas dan diperdebatkan. Komentar dan hujatan silih berganti muncul di media masa. Dari orang yang paham politik, hingga orang yang tidak paham politik, kini menjadi ikut-ikutan karena terpengaruhnya dengan aroma politik yang makin menyengat publik.

Hal inilah yang sering disebut orang sebagai 'euforia! Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 'euforia' berarti perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan. Perasaan gembira yang berlebihan yang sifatnya sementara. Biasanya yang terjadi pada acara tertentu dan bila acara itu sudah selesai maka kenangan hanyalah sebatas kenangan saja.

Seperti pesta demokrasi yang akan berlangsung 24 Februari 2024 nanti. Mendadak banyak masyarakat yang terdiri dari anak muda, ibu-ibu, bapak-bapak, petani dan berbagai kalangan ikut peduli dan ikut mengomentari berbagai kondisi politik saat ini. Berbagai cara yang mereka lakukan untuk menunjuk kan bahwa mereka juga bisa dan mengerti dengan dunia politik saat ini.

Salah satunya perang pendapat mereka mengenai siapa Paslon Capres dan Cawapres di dunia maya. Banyak yang berkomentar baik hingga buruk di dunia maya tersebut. Hal ini tentu tidak akan berhenti sampai pesta politik di Indonesia benar-benar berakhir nantinya.

Polemik-polemik dan komentar-komentar masyarakat akan terus bermunculan, serta semakin mengasyikkan tentunya. Karena perang akan semakin hangat. Relawan dan tim sukses setiap partai akan sibuk dengan berbagai cara untuk memikat hati rakyat. Semakin banyak hal yang dilakukan, komentar publik pun tidak akan berhenti begitu saja.

Ada hal baru, tentu ada juga komentar baru yang muncul. Karena sedang panas, hal apapun yang berbau politik yang muncul ke permukaan publik akan dikomentari. Karena memang sedang masanya, jadi tidak bisa para politikus dan elit politik mengelak dari berbagai argumen masyarakat tentunya. Semua yang baru pasti akan dikomentari dan akan terus begitu sampai Pemilu 2024 ini usai. Akan ada saja cara publik menghubung hubungkan masalah yang muncul dengan perpolitikan.

Misalnya saja, beberapa tokoh yang digadang-gadang ikut dalam kontestasi tahun 2024 hadir ke tengah masyarakat untuk berkunjung dan menyapa masyarakat saat ini. Tentunya masyarakat akan menilai hal ini adalah sebuah pencitraan. Apa pun yang dilakukan saat ini, akan menimbulkan pikiran pada masyarakat bahwa calon-calon tersebut sedang menarik simpati masyarakat untuk Pemilu 2024.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.