Dibayang-bayangi Inflasi, Yogyakarta Hadapi 2023 dengan Optimis

Menjelang pagi kita tatap tahun depan dengan rasa optimis
Menjelang pagi kita tatap tahun depan dengan rasa optimis
Sumber :
  • vstory

VIVA – Dampak kenaikan BBM pada Bulan September 2022 mengantarkan komoditas bensin menempatkan sebagai komoditas yang memberi andil terbesar pada inflasi tahun 2022 (y on y) di Yogyakarta dengan share inflasi sebesar 1,18 persen.  Selanjutnya urutan kedua penyumbang andil adalah komoditas bahan bakar rumahtangga dengan share 0,66 persen; angkutan udara menyumbang inflasi 0,31 persen; beras dengan share 0,18 persen; telur ayam ras dengan andil 0,17 persen; biaya kuliah akademi/perguruan tinggi memberikan share 0,16 perse; rokok kretek filter dengan peran 0,14 persen; dan komoditas nasi dengan lauk memberi andil pada inflasi di Kota Yogyakarta sebesar 0,13 persen.  

Sedangkan komoditas terbesar yang menyumbang inflasi pada tahun 2021 adalah angkutan udara sebesar 0,31 persen. Urutan kedua komoditas penyumbang inflasi kedua di Kota Yogyakarta adalah minyak goreng dengan andil 0,25 persen; rokok kretek filter dengan share 0,07 persen; tempe 0,06 persen; biaya kuliah akademi/perguruan tinggi memberi share inflasi 0,05 persen; tarif kendaraan roda 2 online sebesar 0,04 persen; komoditas jeruk dan bayar tukang bukan mandor dengan andil sama sebesar 0,03 persen.

Adapun inflasi tahun ke tahun di Yogyakarta pada Desember 2022 terhadap Desember 2021 sebesar 6,49 persen. Sedangkan inflasi tahunan pada Desember 2021 sebesar 2,29 persen.  Inflasi bulan ke bulan (Desember 2022 terhadap November 2022) sebesar 0,65 persen. Inflasi berdasarkan kelompok pengeluaran (y-on-y) tertinggi pada kelompok transportasi dengan inflasi di Yogyakarta sebesar 13,75 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 1,94 persen. Kelompok kedua penyumbang inflasi y-on-y tahun 2022 adalah makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 6,85 persen dengan andil 1,55 persen. Selanjutnya kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan inflasi 5,11 persen dan andil 0,93 persen.

Sementara itu inflasi tahunan (y-on-y) secara nasional sebesar 5,51 persen, artinya dampak kenaikan BBM pada bulan September 2022 yang lalu secara nasional masih terkendali dan inflasi umum tidak sampai mencapai dua digit. Tentu hal ini juga atas kerja keras Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang segera melakukan tindakan antisipasi gejolak inflasi dengan operasi pasar, bantuan sembako murah dan sembako gratis bagi rumah tangga miskin.

Meskipun secara inflasi umum nasional tidak mencapai dua digit, namun bila dicermati menurut kelompok pengeluaran ada satu kelompok pengeluaran yakni transportasi dengan inflasi sebesar 15,26 persen dengan andil sebesar 1,84 persen. Tekanan inflasi komponen harga diatur pemerintah secara tahunan relatif masih tinggi karena didorong oleh kenaikan harga bensin, bahan bakar rumah tangga, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan dalam kota selama tahun 2022. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah yang tepat menjadi  sangat fundamental menentukan tinggi rendahnya tingkat inflasi yang akan terjadi secara nasional di tahun depan.

Sedangkan komponen harga bergejolak yang dipengaruhi oleh kejadian-kejadian seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional pada Desember 2022 kembali mengalami pelemahan dibandingkan bulan November 2022, hal ini disebabkan oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan. Namun ada beberapa catatan yang perlu mendapat perhatian adalah kejadian bencana banjir yang melanda di beberapa sentra pertanian lumbung pangan nasional. Tentu tindakan cepat dan taktis untuk antisipasi dan recoveri pra dan pasca bencana dari pemerintah pusat dan daerah sangat diperlukan untuk menjamin keberlangsungan serta kecukupan stok bahan makanan produk pertanian dan hortikultura untuk mengendalikan kenaikan harga pada level daerah sampai pusat.

Pengalaman bersama menghadapi Covid -19 menjadi kekuatan Bangsa Indonesia salah satunya dengan membangkitkan kembali dan menumbuhsuburkan modal sosial yang kita dimiliki, saling menyayangi, saling memberi, saling membantu, saling bekerja sama, bergotong royong, saling peduli, saling menghormati dan tidak ada yang merasa yang terbaik. Dengan kebijakan local (local wisdom) dengan kesadaran penuh untuk membantu sesama dengan penuh cinta kasih.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.