BBM dan Kemiskinan
- vstory
Sektor pertanian merupakan sektor yang mendominasi wilayah perdesaan. Namun tidak semua penduduk miskin mampu memanfaatkan sektor tersebut. Terdapat penduduk miskin yang tidak memiliki lahan pertanian untuk diolah. Hal ini dikarenakan lahan tersebut dimiliki oleh penduduk perdesaan yang kaya. Terdapat juga penduduk miskin yang memiliki lahan pertanian namun hanya cukup untuk kebutuhan pangan. Terdapat juga penduduk miskin yang kesulitan dalam mengolah lahan pertanian dikarenakan harga produksi yang mahal. Akibatnya, penduduk desa tersebut mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan, pendidikan, maupun kebutuhan hidup lainnya.
Kondisi semakin memperburuk keadaan apabila penduduk miskin tersebut memiliki anak. Anak merupakan amanah yang diberikan Tuhan kepada orang tua. Sangat disayangkan apabila anak tersebut tidak mendapatkan kehidupan yang layak. Anak yang sejatinya merupakan harapan orang tua dan bangsa diharapkan dapat memberikan manfaat untuk ke depannya. Namun apabila kondisi anak tersebut buruk, misalnya terjadi kasus gizi buruk dan tidak menempuh pendidikan yang tinggi dikhawatirkan ke depannya akan menjadi beban orang tua dan negara.
Berkaitan dengan masalah gizi anak, kasus stunting masih saja terjadi di Indonesia. Stunting bukanlah hanya permasalahan tinggi badan anak namun juga berkaitan dengan keterbelakangan mental, kemampuan anak yang rendah untuk belajar serta muncul penyakit kronis. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan dari 24,4 persen pada tahun 2021 menjadi 21,6 persen pada tahun 2022. Meskipun mengalami penurunan, kasus stunting di Indonesia masih harus dipantau.
Indonesia diperkirakan mengalami bonus demografi yang puncaknya terjadi sekitar tahun 2030 hingga 2035. Bonus demografi merupakan kondisi jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk non produktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Dalam mengatasi permasalahan kemiskinan diharapkan tidak hanya berfokus dalam pengendalian harga komoditas namun juga berfokus terhadap pengembangan sumber daya manusia. Harapannya bonus demografi dapat menyelamatkan bangsa ini dan tidak terjadi peristiwa “zonk demografi”. (Dyah Makutaning D, Statistisi di BPS Kabupaten Seruyan)