Demokrasi Tanpa Digitalisasi?

Ilustrasi aktivitas di media sosial.
Sumber :
  • Pixabay

Tanpa disadari juga, kita pun mulai mengenal berbagai profesi yang dulunya sempat tak terpikirkan. Muncul tren-tren profesi baru. Tidak hanya memunculkannya saja, tren permintaan pada profesi ini juga semakin meningkat drastis. Bahkan, spesialis-spesialis baru ini telah bertransformasi menjadi unit-unit kerja baru. 

img_title Masa Depan Baterai Kini Ditentukan oleh Riset, Inovasi, dan Teknologi

Suka atau tidak, penuhnya ruang-ruang digital ini memiliki pengaruh yang signifikan bagi perkembangan demokrasi. Sesuai dengan pemahaman jamaknya, demokrasi diterjemahkan sebagai dijaminnya hak warga negara untuk berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melesatnya interaksi warga ini kemudian menuntut semua orang tanpa terkecuali untuk mengambil peluang: untung dan tenar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di satu sisi, kita bisa melihat siapapun mempunyai peluang untuk ‘berhasil’ hanya dengan postingan-postingannya di dunia maya. Tidak seberapa penting asal usulnya, namun ketika timing-nya tepat, tidak ada yang bisa menahan lajunya untuk bisa dikenal. Dipuja banyak orang. Viral. Beragam benefit didapat.

img_title Gubernur Kalteng Percepat Pemerataan Akses Internet di Wilayah Terpencil, Hibahkan Ribuan Starlink

Begitu juga sebaliknya. Siapapun yang tadinya dikenal dan dipuja banyak orang bisa mengalami titik baliknya. Jika postingannya ‘tersandung’ atau tiba-tiba ada kesalahan fatal yang tidak diterima oleh segelintir netizen. Bagaikan bom waktu semua itu akan viral juga. Viral yang menyebabkan jutaan follower yang tadinya menjadi penggerak like, love, and save akan berbalik arah. Unfollow. Menjadi haters. 

Akhirnya kondisi yang demikian membuat kehidupan semakin riuh dengan berbagai pendapat. Suara-suara sudah tak terbendung. Orang-orang bebas berpendapat tanpa perantara, tanpa batas waktu, dan bahkan tanpa saringan kata. 

img_title Akses Internet Makin Luas, Begini Cara Edukasi Anak di Daerah agar Tak Kecanduan Gadget

Bahkan di antaranya tanpa ragu berani memberikan vonis akhir. Baik atau buruk. Jika terkait dengan para kandidat yang akan mencalonkan diri. Netizen pun bisa memberikan dorongan: dipilih atau jangan.

Dengan demikian, jangan heran dengan semakin mendekatnya jarak pesta demokrasi yang akan kita rayakan, maka akan semakin ramai panggung-panggung tebar kebaikan hadir di jagat digital. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terlepas itu hanyalah sebuah pencitraan atau bukan. Terlepas suara itu berdasarkan kebenaran atau hanya sebatas dengungan para buzzer. Kelak, suara netizenlah yang akan menguliknya.

Fakta ini tidak bisa dihindari. Sebuah konsekuensi logis hidup di alam demokrasi yang telah dibumbui dengan akselerasi arus informasi yang di antaranya berwujud  ratusan juta akun sosial media yang ada.  (Syafbrani ZA, Praktisi Pendidikan & Konsultan Publikasi, Bergiat di Universitas Trilogi Jakarta)

Ilustrasi informasi hoax tersebar di media sosial.

Ramai Isu 'Rusuh Agustus Jilid II', IPR Ingatkan Warga Waspadai Provokasi Buzzer di Medsos

Publik belakangan diramaikan dengan isu potensi kerusuhan di ibu kota yang dinarasikan sebagai "Rusuh Agustus Jilid II". Terkait hal itu, warga diminta tak panik.

img_title
VIVA.co.id
24 Agustus 2026
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut