Idrus Marham: Syak Wasangka

Ilustrasi suara kecurigaan.
Sumber :
  • Istimewa

VIVA - Keumumannya, tak seorang pun bisa menghindar dari syak wasangka. Siapa sih yang bisa luput dari pikiran jelek orang lain? Jangankan  kita, Baginda Rasulullah yang Maksum pun, masih ada saja yang mensyak wasangkakannya.

img_title Aktivis 98 Resolution Network: Momentum 17 Agustus Jangan Diubah Jadi Panggung Politik

Secara harfiah, syak wasangka berarti kecurigaan. Tapi kalau kita telusuri lebih jauh lagi dengan mengedepankan pertanyaan lanjutan, kecurigaan terhadap apa dan siapa?  Maka jalan ceritanya akan panjang sekali.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebab siapa pun bisa terlibat dan dilibatkan dalam ruang syak wasangka, tanpa kecuali. Sebagaimana juga apa saja bisa dipotret dengan kamera syak wasangka.

img_title Di Depan Delegasi IRI, Cak Udin Tegaskan Regenerasi Politik PKB Bukan Sekadar Slogan

Namun begitu, sejauh literatur tentang syak wasangka yang saya baca, tak seorang pun memberi bobot positif pada sikap syak wasangka ini. Baik itu syak wasangka perorangan apalagi yang terkategori masif.

Jika ditilik dari sisi agama, bersyak wasangka jelas dilarang. Iya cenderung disebut penyakit hati, masuk dalam keluarga besar sifat suudzon. 

img_title Organisasi Mahasiswa Katolik Perkuat Sinergi dengan Pemerintah

Al Qur'an,  surat Al-Hujurat ayat 12,  tegas tegas menyatakan "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu sekalian yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang."(QS. Al-Hujurat: 12).

Tegas, gamblang dan keras. 

Baginda Rasulullah SAW tegas tegas juga sikapnya terhadap syak wasangka atau suudzhon.  Sebagaimana sabdanya , "Jauhilah prasangka buruk, karena  prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta" (HR. Al-Bukhari).

Sebegitu jelas dan tegasnya hukum bersyak wasangka. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pertanyaan mengherankannya, mengapa syak wasangka tetap saja populer di masyarakat?

Tentu banyak alasannya. Di antaranya karena syak wasangka adalah penilaian yang gampang cair. Syak wasangka, biasanya lahir dengan mengedepankan kasus kasus yang cenderung bersinggungan dengan "logika rasa" dari banyak orang. Seperti  kekhawatiran yang besar cenderung mencaplok yang kecil, kuat menindas yang lemah, dan seterusnya. Merembet sampai ke ruang rasa dizalimi, dicurangi, dan seterusnya.  Akibatnya, tanpa disadari, Syak wasangka cenderung berubah bentuk menjadi logika pelarian atas sebuah ketidakberdayaan. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut