- Dok. Istimewa
Sebab tak sedikit juga pihak yang disalah-salahkan padahal dia tidak seperti apa yang diungkapkan orang. Di sini merasa benar merupakan ungkapan altruistiknya. Ungkapan jujur benarnya.
Karena dia haqul yakin bahwa proses yang dijalankan sudah sesuai kaidah, dan sesuai syariatnya. Tidak sebagaimana yang dituduhkan orang. Juga tidak Sebagaimana tudingan orang yang berbasis rekayasa imajiner. Termasuk jika orang yang menuduhnya sampai menggunakan dalih manipulatif, dalih keyakinan orang banyak -- yang termakan isu.
Maka dalam keadaan seperti ini, merasa benar adalah sikap yang benar.
Namun demikian, sebagaimana dengan konsep benar. Konsepsi merasa benar juga beragam variannya. Ada yang merasa benar dengan jujur secara apa adanya, ada juga yang merasa benar secara ada apanya. Andai ia merasa benar dengan jujur secara apa adanya, kontektualistas dan faktanya jelas, maka ia sebenernya termasuk pihak yang merasa benar dengan benar.
Tapi sebaliknya, jika andalannya merasa benar hanya berbasis akal akalan, bulus bulusan, maka ia sesungguhnya termasuk kalangan pendusta.
Kalangan yang memanipulasi kebenaran sedemikian rupa, mengkoyak segala rupa, sehingga merusak kebenaran orang lain. Demi sikap merasa benarnya.
Orang yang mengandalkan sikap merasa benar, pasti akan terjebak oleh rekayasa rekayasa kebenarannya sendiri.
Persoalannnya, mudahkah membedakan orang benar dengan orang yang merasa benar?
Di situ masalahnya. Tak mudah! Kalau saja perbedaaan antara benar dan merasa benar ini, masih kelihatan jenjang jaraknya, maka ia akan gampang diidentifikasikan. Gampang ditebak. Tapi bagaimana jika kejelian bermanipulasi sudah menggunakan rekayasa ilmiah? Memanfaatkan psikologi masa dan menggunakan cover -cover kebenaran?
Tak mudah! Membedakan yang benar dan merasa benar, bak mencari semut hitam, berjalan di batu hitam saat gelap gulita malam.
Tapi percayalah, Sifat benar selalu memberi bukti, sementara yang merasa benar, pasti terbukti!
Saatnya kita jujur pada gerakan kebenaran. Jujur pada hati nurani. Jangan jujur pada gerakan anti kebenaran, seperti orang-orang yang berpura-pura jujur di balik ketidak jujurannya. Naudzhubilllah. (Idrus Marham, Politisi Golkar)