Fobia Masa Lalu

Senja diufuk itu, simbol keindahan hampir berlalu
Sumber :
  • vstory

Phobiomos Parelthón 

img_title Buku Puisi Esai Denny JA Diterjemahkan 35 Bahasa

Oleh: Alwi Husein Al Habib

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hai, masih ingatkah?

img_title Mengenal Puisi Esai dan Cara Baru Membaca Peristiwa Sejarah

Ini aku, dirimu yang dulu

Yang semenjak sesaat kau senang kau tinggalkan

img_title Kolaborasi Denny JA, UKI dan Komunitas Puisi Esai Kembali Hidupkan Teater Sekolah

Yang sesaat kau sedih kau memaki

............................................

Hai, masih bisakah bersua?

Jangan pergi meninggalkan

Mari kita bangun masa depan

Tentunya aku sebagai pijakan

Menemanimu hingga akhir tujuan

.............................................

Hai, terbesitkah aku di hatimu?

Sesampai iringan rindu yang menggebu-gebu

Terhampas oleh gelombang sendu

Bukan aku penyebabnya

Dialah yang harusnya bertanggung jawab

Malah aku yang kau salahkan

Bersamaku kau sesalkan

............................................

Hai, aku ini siapa?

Entahlah, sebagian bilang aku masa lalu

Sebagian bilang aku masa kelabu

Yang paling penting,

Aku selalu menyadari

Jangan sampai luka itu terulang kembali

Cukupkan masa lalu, aku ingin pergi lebih jauh

............................................

Agapi

Cinta yang baik adalah

yang tumbuh dan berbenah

Mendengar keluh kesah untuk keselarasan

Bukan hal yang harus dimaknai sebagai keburukan

cinta hadir bersemi bersama dengan raga yang merindu

jika hati memiliki seribu makna untuk mengungkap rahasianya

kerinduan menjadi penyegera rahasia itu terungkap

"Jika nanti cinta dan rindu tak terdengar di telingamu lagi

Percayalah doaku akan setia memeluk jiwamu hingga malam yang menyendiri."

"Senja tiba dengan rona bayangmu yang memenuhi semesta, sejauh mataku berkaca, wajahmu seperti lampu cahaya yang memenuhi segala." 

"Terusik rindu yang menelusup di setiap kedip mata. Dua hari menapak jejak bersama, telah memagut getarku tak bersisa."

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jika ini memang cinta, aku hanya tahu bagaimana cara mengungkapkannya dalam ketelanjangan apa adanya. Dengan segenap raga, hati, dan jiwaku yang mengulum kepasrahan tanpa syarat."

“Di malam yang diisi sunyi, ingin aku memelukmu dengan bermiliar rasa rindu. Kudekap detak kita beradu. Menatap matamu yang syahdu adalah kesukaanku.”

Acara peringatan Hari Santri Nasional di Sekolah Rakyat Terintegrasi

Peringati Hari Santri, Siswa Sekolah Rakyat Tampilkan Puisi Dari Bumi Kiai Bisri Kami Menggapai Mimpi

Air mata tak dapat dibendung oleh Yasmin Firdausy, saat dia membacakan puisi bertajuk ‘Dari Bumi Kiai Bisri, Kami Menggapai Mimpi’. Dengan suara lantang dan penuh…

img_title
VIVA.co.id
22 Oktober 2026
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut