Kepala BPPT: Tenaga Nuklir Efektif Jadi Pembangkit Listrik

Pusat riset Nuklir GA Siwabessy
Sumber :
  • Vivanews/AgusTH
VIVA.co.id
Batan: RI Negara Paling Siap Bangun PLTN di ASEAN
- Batu bara ternyata tidak terlalu efektif dan cenderung meracuni lingkungan sekitar. Oleh karena itu, nuklir dianggap sebagai pembangkit listrik yang lebih baik.

Energi Nuklir Masih Jadi Opsi Terakhir

Hal ini disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto. Bahkan ia mengatakan, sudah saatnya Indonesia beralih menggunakan bahan baku pembakit listrik, dari batu bara menuju nuklir.
Nuklir Bisa Gantikan Listrik Saat Gerhana Matahari Total


Menurut Unggul, batu bara seringkali digunakan untuk pembangkit listrik. Padahal bahan bakar fosil tersebut tidak efektif dan meracuni lingkungan sekitar dengan polusinya.


"Batu bara itu output sama inputnya berbeda. Begitu juga dari segi keuntungannya. Lingkungan mudah tercemar akibat pembakaran batu bara ini," ujar Unggul, ditemui di Kantor BPPT usai peluncuran buku Outlook Energi dengan tema "Pengembangan Energi untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan", Jakarta, Selasa, 3 November 2015.


Penggunaan listrik oleh masyarakat Indonesia terus mengalami peningkatan sehingga diperlukan daya yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Untuk itu, dengan skala masif, tentunya tenaga nuklir menjadi jawaban dari persoalan tersebut.


"Untuk kebutuhan banyak dengan pembangunan masif, jawabannya adalah tenaga nuklir (PLTN). Sayangnya, di sini, risiko penggunaan nuklir masih ditakuti. Kalau takut terus bagaimana mau terlaksana," ungkap dia.


Unggul menambahkan, untuk membangun pembangkit listrik mengandalkan tenaga nuklir membutuhkan jangka waktu yang tidak sebentar. Dikatakannya, butuh hingga satu dekade lamanya untuk menyelesaikan satu PLTN.


"PLTN itu butuh waktu 10 tahun. Kalau niatnya sekarang berarti 10 tahun lagi jadinya. Namun di kita masih terkendala sosial dan politik. Ada yang tidak setuju, ada yang setuju soal PLTN," ucapnya.


Disampaikan Unggul, batu bara itu memiliki polusi tinggi dalam pembakarannya sehingga dapat mencemari udara di lingkungan. Bahkan, kata Unggul, biaya untuk membawa batu bara ke area pembangkit listrik dianggap pemborosan.


"Misalnya, batu bara 100 ton yang efektif jadi listrik itu hanya 30 persen, sisanya dibuang ke udara dalam bentuk panas. Jadi, ongkosnya habis di jalan," jelas dia.


Padahal, Unggul mengemukakan, sejumlah negara sudah memanfaatkan tenaga nuklir untuk kebutuhan sehari-hari mereka.


"Di Perancis itu 60 persen listriknya berasal dari tenaga nuklir. Jepang, yang mulanya ingin mematikan, ternyata tidak. Kalau, mereka (Jepang) jadi mematikan maka tidak jalan itu transportasi keretanya," tutur Unggul.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya