Welcome to Jakarta, Kota Langganan Padam

Sumber :

VIVAnews - Pemadaman listrik secara terus menerus yang melanda Jakarta menimbulkan kekecewaan para pelanggan. Bukan hanya masyarakat biasa yang kecewa, tetapi juga para pengusaha, baik pengusaha kecil hingga investor asing.

Kecaman bukan hanya disampaikan antar sesama anggota masyarakat, tetapi juga diungkapkan melalui media, bahkan facebook yang kini ngetren jadi alat untuk menyampaikan suara mereka. Bahkan, Kadin DKI Jakarta berniat menggugat PLN karena listrik bolak-balik mati.

Simak saja penuturan seorang warga negara asing yang tinggal di kawasan Kemang, Jakarta. Dia mengaku kecewa dengan PLN karena listrik di kediamannya berulang kali padam. Dia heran, peristiwa seperti ini bisa terjadi di pusat ibukota Indonesia.

"Ini Jakarta, bukan Sulawesi," ujar Glenn Steward dalam sebuah percakapan di Jakarta, Senin, 9 November 2009. Menurut dia, semestinya Jakarta sebagai ibukota negara, pusat perdagangan, jasa keuangan, industri, apalagi menjadi simbol Indonesia, seharusnya dijaga pasokan listriknya.

Eksekutif asing itu mengingatkan Jakarta bukanlah Sulewasi yang jauh dari ibukota dan masih kekurangan infrastruktur listrik. Karena itu, dia berharap agar PLN benar-benar memperhatikan masalah ini.

Pernyataan warga asing itu mengingatkan kita pada iklan pariwisata DKI Jakarta di televisi atau billboard di jalan utama ibukota. "Welcome to Jakarta, everything is posible." Semua bisa dilakukan di Jakarta, mulai dari main golf, wisata makan, mainan, museum hingga hiburan.

Satu lagi yang posible di Jakarta adalah mati lampu yang menjadi langganan. Ini sangat jarang terjadi di ibukota-ibukota negara lain.

Dalam sebuah pertemuan dengan Menteri Perindustrian MS Hidayat, Senin kemarin, 9 November 2009, puluhan delegasi pengusaha Jepang juga menyesalkan minimnya pasokan listrik bagi industri di Indonesia.

"Mereka sampaikan bahwa proyeknya di Indonesia terkendala listrik. Saya minta maaf soal itu," kata Hidayat.

Tak bisa dipungkiri, pemadaman bergilir yang kerap terjadi di Indonesia sangat merugikan industri. Operasional pabrik tidak sesuai skedule, delivery time akan terganggu. Tak pelak jika banyak pengusaha yang kecewa karena rugi miliaran, bahkan puluhan miliar rupiah gara-gara listrik.

Peristiwa yang terus berlanjut ini memang tak lepas dari sejumlah kejadian besar yang dialami PLN. Dalam beberapa pekan hingga bulan belakangan ini, pasokan listrik di Jakarta memang mengalami defisit besar.

Penyebabnya bermula dari kebakaran hebat yang terjadi di salah satu trafo Gardu Induk Cawang, Jakarta Timur, pada 29 September 2009. Peristiwa itu memadamkan sebagian besar Jakarta, termasuk di antara kawasan perkantoran, Jalan Jenderal Sudirman.

Terbakarnya trafo juga membuat sejumlah perjalanan kereta listrik Jabodetabek terlambat. Pasokan listrik tidak cukup untuk menjalankan kereta itu.

Sayangnya, hingga kini kondisi listrik di Jakarta juga belum pulih. PLN Berjanji akan menyelesaikan perbaikan trafo Gardu Induk Cawang hingga pertengahan Desember. Setelah itu, diharapkan defisit listrik di wilayah Jakarta tidak terjadi lagi.

Masalah satu belum selesai, PLN sudah tertimpa musibah lagi. Pembangkit listrik tenaga gas uap Muara Karang, Jakarta, mengalami kerusakan lagi, kemarin pagi pukul 01.00 WIB.

Kondisi ini menyebabkan pemadaman di wilayah Jakarta Barat dan sebagian Jakarta Pusat. Beberapa wilayah di antaranya Bintaro, Pondok Aren, Ciledug, Cengkareng, Kamal Muara, dan Cinere.

Padahal, sepekan lalu, pembangkit yang sama juga mengalami kerusakan yang menyebabkan sebagian Jakarta Barat dan Selatan mengalami pemadaman. Kerusakan terjadi pada pukul 23.40 WIB, Senin 2 November, dan sampai sekarang belum diketahui penyebabnya.

Pembangkit Muara Karang mengoperasikan lima PLTU dan satu PLTGU dengan total kapasitas 1.200 MW. Unit Pembangkitan Muara Karang menyuplai energi listrik di Jakarta dan sejumlah area penting, termasuk Istana Negara dan Gedung DPR/MPR.

Selain itu, beberapa kejadian juga menambah panjang daftar defisit listrik di Jakarta. Seperti kerusakan kecil pada Gardu Induk Kembangan, Jakarta Barat, dan pemeliharaan di Gardu Induk Gandul, Depok.

Pemeliharaan Gardu Induk Gandul dilakukan akhir pekan lalu, sejak Jumat malam hingga Minggu malam (6-8 November). Meski dilakukan akhir pekan saat beban puncak Jakarta berkurang, pemeliharaan gardu ini tetap menimbulkan pemadaman di sebagian wilayah Jakarta Selatan dan Depok.

Untuk mengatasi defisit listrik ini, PLN sesungguhnya sudah berupaya membeli listrik sebesar 37 Megawatt dari PT Bekasi Power Jababeka. PLN juga membeli 100 MW dari PT Cikarang Listrindo. Namun, seperti diakui bos PLN, Fahmi Mochtar, dari Cikarang Listrindo baru masuk 20 MW.

"Sedangkan dari Bekasi Power akan masuk 14 hari lagi," kata Fahmi di Komisi Energi, Dewan Perwakilan Rakyat, di Jakarta, Senin kemarin, 9 November 2009.
"Ini salah satu solusi mengatasi keterbatasan pasokan di sistem kelistrikan Jakarta."

Persoalannya, masyarakat mungkin tidak tahu apa yang terjadi dengan PLN dan bagaimana langkah-langkah PLN mengatasinya. Mengutip pernyataan seorang mantan Dirut PLN kepada Dirut Garuda Emirsyah Satar, bagi pelanggan atau masyarakat yang penting jasa pelayanan berjalan.

"Kalau listrik nyala, tidak ada yang pernah ngomongin PLN. Namun, saat listrik mati, PLN dihujat melulu," kata Emir. "Ya, itulah risiko bisnis. Kritik masyarakat itu perlu, untuk memperbaiki diri."

heri.susanto@vivanews.com