Target Kami #2019GantiParlemen

Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

Lalu hal apa yang akhirnya membuat Anda bergabung dengan Partai Berkarya?

Saya merenung, menghitung dan mengkalkulasi. Ketika suatu hari Mas Tommy Soeharto datang menemui saya setelah beliau terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Partai Berkarya, beliau mengundang saya dan mengajak diskusi.

Pada pertemuan kedua mengajak saya untuk ikut bergabung, dan menawarkan saya untuk duduk di posisi Sekretaris Jenderal. Saya kaget, karena tidak ada hujan tidak ada angin, dan saya tidak menyangka akan diminta dan ditawarkan bergabung di sini.

Pada pertemuan itu, tidak langsung saya iyakan, tentunya saya mengucapkan terima kasih atas penghormatan dari Mas Tommy yang telah memberikan kepercayaan kepada saya, tetapi saya butuh waktu sekitar empat hari. Ketika itu untuk merenung, menghitung dan mengkalkulasi, menanyakan kepada keluarga, terutama istri saya, dan sudah tentu fatsun politik saya.

Adakah Anda berdiskusi dengan tokoh-tokoh penting di Golkar?

Saya minta ijin kepada tokoh-tokoh Golkar yang selama ini saya pandang dan selalu saya mintai pendapat, yaitu Prof, DR. BJ Habibie sebagai ketua saya di Dewan Kehormatan Partai, kemudian Pak Jusuf Kalla, beliau sekarang Wakil Presiden.

Dan saya juga harus mendiskusikan hal ini, sekaligus mohon pamit kepada senior saya Bang Akbar Tanjung, karena beliau ini yang gembleng saya selama di Golkar, sehingga saya bisa duduk di posisi penting selama ini, dan juga kepada Bang Aburizal Bakrie. Keempat tokoh ini lah yang saya pandang, dan saya harus diskusikan dan mintakan pertimbangan, minta ijin, sekaligus pamit lah ya, dan itu yang terjadi.

Alhamdulillah saya menemui keempat tokoh itu sebelum pada akhirnya saya memutuskan untuk hijrah ke sini. Kesimpulannya apa? Pertama merasa bergembira dan merasa plong, karena mereka, para tokoh di partai Golkar itu pada akhirnya tidak berkeberatan, meskipun mereka memberikan catatan, seperti “loh kenapa sekarang? Kenapa gak nanti menunggu nanti (partai berkarya lolos, dsb), intinya mereka meminta saya tolong pikirkan ulang, ini partai baru, dan sebagainya.

Tapi toh pada akhirnya keputusan kan harus tetap saya ambil. Itu normatifnya, tapi sebenarnya ada alasan-alasan lain yang selama ini mungkin belum saya ungkap, termasuk di media-media.