Target Kami #2019GantiParlemen
- VIVA/M Ali Wafa
Trah Soeharto. Karena begini sebenarnya, jujur saja dalam pandangan saya pribadi sebagai Priyo Budi Santoso yang sejak mahasiswa dulu saya aktif di gerakan mahasiswa, bahkan saya sempat menjadi pimpinan gerakan mahasiswa pada tahun 90an, bahkan saya sampai hari ini sangat senang ketika mengingat memori tahun-tahun ketika itu, saya melihat ada ketidakadilan perlakuan terhadap mantan-mantan presiden di republik ini.
Di mata saya Bung Karno dan Pak Harto adalah dua putra terbaik yang dimiliki bangsa ini, tapi sekarang orang masih mencibir kepada salah satunya, memuja yang satunya. Mungkin itu urusan mereka, dan saya tidak mau ikut-ikut dengan sekelompok atau golongan itu, meskipun saya tahu bahwa itu dilakukan oleh kelompok kekuatan politik, ada kelompok yang memuja salah satunya (Bung Karno), kemudian menempatkan secara tidak hormat terhadap satunya lagi (Soeharto). Silahkan saja itu dilakukan, toh saya tidak pernah menganjurkan mereka atau siapapun untuk harus memuja atau menyukai yang dicibirnya itu.
Tapi hak saya sebagai anak bangsa yang merasa terpanggil, dan melihat secara jernih, siapa-siapa pemimpin kita yang banyak berjasa meskipun sebagai manusia biasa sudah barang tentu banyak kekurangannya yang harus kita nilai. Tapi, di mata saya, dua-duanya adalah dua putra terbaik yang pernah dilahirkan oleh bangsa ini, dan presiden-presiden setelah keduanya saya doakan selalu mendapatkan kecipratan kesultanan dan kebaikan dari keduanya.
Anda melihat ada perlakuan publik yang tak adil pada Soekarno dan Soeharto?
Kurang apa Bung Karno Bapak Pendiri Bangsa ini? Tapi kurang apa Pak Harto? Meskipun sebagian masih ada masyarakat yang tidak ikhlas dan mencibir beliau. Tapi ingat jasa beliau [Soeharto] sangat besar, 32 tahun. Siapa presiden yang dengan tegas yang menuntaskan yang namanya gerakan PKI? Pak Harto.
Tapi apa yang diperoleh oleh beliau? Beliau dituduh melanggar HAM, padahal yang dilakukan oleh beliau untuk menyelamatkan bangsa ini terhadap gerakan-gerakan yang antiagama, gerakan Komunis. Apa yang salah atas itu? Masa kemudian kita harus mencari-cari kesalahan Bung Karno?