Kepala BKPM: Defisit Infrastruktur RI Masih Sangat Besar

Kepala BKPM, Thomas Trikasih Lembong saat konpres realisasi investasi.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Fikri Halim

VIVA – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Trikasih Lembong menilai, turunnya peringkat daya saing global Indonesia yang dirilis World Economic Forum pada dasarnya akan lebih jauh merosot, jika Presiden Joko Widodo tidak melakukan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran di periode awal masa kepemimpinannya.

Dia menjelaskan, kinerja pembangunan infrastruktur Indonesia menjadi salah satu indikator pembentuk indeks daya saing global. Setelah berbagai pembangunan infrastruktur yang dilakukan lima tahun terakhir, World Economic Forum menempatkan Indonesia di posisi ke-72 dari 141 negara dengan nilai 64,6.

"Kalau pemerintah Jokowi-JK tidak bangun infrastruktur dari awal, seberapa jauh kita merosot. Dengan apa yang kita bangun saja kita sekadar di tengah-tengah, peringkat 72. Artinya defisit infrastruktur kita masih sangat-sangat besar," kata dia di acara Indonesia Trade and Investment Summit, Jakarta, Selasa, 15 Oktober 2019 

Namun memang, lanjut dia, posisi indeks daya saing global Indonesia yang pada tahun ini berada di posisi ke-50 atau turun lima peringkat dari tahun sebelumnya. Hal ini karena Indonesia hanya ditopang oleh indikator tradisional, seperti besarnya ukuran pasar domestik Indonesia yang diberi peringkat ke-7 dengan nilai 82, hingga stabilitas ekonomi dengan nilai 90 dan posisi ke-54.

Padahal, lanjut dia, negara-negara lain melakukan reformasi yang lebih cepat dibandingkan Indonesia. Indikator-indikator pembentuk indeks daya saing global mereka mengalami peningkatan yang signifikan, dan terdistribusi dengan baik, seperti Singapura maupun Thailand.

"Satu tantangan mengenai daya saing, peningkatan negara tetangga tak pernah statis, tak pernah berdiri diam saja. Mereka berupaya inovasi menandatangani perjanjian perdagangan, promosi investasi, membenahi bidang ketenagakerjaan. Jadi persaingan regional dan internasional sangat dinamis," tuturnya.

Di samping itu, lanjut dia, keterbukaan ekonomi Indonesia belum lebih baik dibanding negara-negara lain, sehingga arus investasi sedikit masuk, dan transfer teknologi dari negara-negara maju juga stagnan. Itu tergambar dari indikator kapasitas inovasi Indonesia yang dinilai World Economic Forum terbatas dengan nilai 37,7 dan posisinya ke-74.

"Nah semakin sebuah ekonomi membuat diri terhadap internasional, semakin dia bisa ambil teknologi-teknologi dan inovasi-inovasi dari berbagai macam negara. Semakin tidak terbuka maka semakin sedikit, sehingga sulit dunai usaha, pejabat nyontek dari best practice seluruh dunia," kata dia.