Asyiknya Transaksi Non-Tunai, Tapi Tetap Waspada dengan 3 Hal ini

Ilustrasi transaksi pembayaran lewat ponsel. Minat masyarakat untuk berinvestasi kian meningkat. Salah satunya akibat kemudahan dalam betransaksi secara digital melalui ponsel pintar.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Misrohatun Hasanah

VIVA – Apakah Anda cukup familiar dengan istilah Cashless Society? Beberapa dari Anda mungkin sudah sangat paham akan hal tersebut namun banyak masyarakat yang belum sadar telah menjadi bagian dari cashless society dalam kehidupan sehari-hari mereka. 

Perkembangan teknologi yang kian pesat melahirkan cashless society, di mana istilah ini lahir dari kondisi berkurangnya penggunaan uang fisik karena tergantikan uang digital atau e-money. Masyarakat menyambut sistem transaksi non-tunai ini dengan euphoria, didukung oleh banyaknya promo yang diberikan oleh penyedia layanan uang digital untuk mendorong penetrasi penggunaan di masyarakat. 

Hampir setiap hari transaksi keuangan sudah mulai berganti menggunakan uang digital baik berbentuk kartu debit maupun kredit hingga aplikasi e-wallet yang dengan mudahnya diakses melalui smartphone, berbagai transaksi seperti pembayaran transportasi umum, membayar tol, membayar parkir, belanja kebutuhan harian dengan kartu kredit maupun debit semakin menguatkan cashless society di masyarakat. 

Lembaga penyedia jasa konsultasi keuangan, Grant Thornton Indonesia, merangkum 3 hal penting yang perlu diketahui masyarakat terkait cashless society untuk mendapat pandangan menyeluruh terkait transaksi non-tunai dibandingkan dengan transaksi tunai. Tentu selalu ada plus-minus di antara dua sistem itu:  

1. Beragam promo menarik VS konsumtif
Promo menjadi strategi paling ampuh untuk menarik minat masyarakat menggunakan uang digital, berbagai penyedia layanan uang digital berlomba memberikan promo seperti potongan harga hingga cashback besar-besaran. Tentunya, itu menguntungkan jika kita belanjakan untuk produk yang memang kita perlukan. 

Namun, tanpa disadari kemudahan ini juga membuat masyarakat kian konsumtif yang pada akhirnya hanya menjadi pembelian impulsif karena tergoda diskon. Pengeluaran pun menjadi tak terkendali. 

2. Transaksi lebih cepat VS masalah sinyal
Transaksi dengan nilai besar tentunya akan memakan waktu lebih lama dengan perlunya pihak tenant menghitung uang dahulu, belum lagi menunggu uang kembalian yang kadang tidak tersedia pecahannya di kasir. Lewat transaksi cashless, proses tersebut dapat menjadi jauh lebih mudah dan cepat dengan tinggal gesek kartu pada mesin EDC ataupun scan barcode. 

Namun, pernahkah terbayang jika mesin-mesin tersebut atau smartphone Anda mengalami kesulitan signal? Otomatis pembayaran tidak bisa dilakukan jika tidak membawa uang tunai hingga ada resiko transaksi justru menjadi lebih lama atau bahkan terpaksa membatalkan pembelian. 

3. Terhindar dari perampokan VS serangan cyber
Kartu maupun aplikasi uang digital di dalam smartphone tentunya memiliki pin dan password yang menjadikan keamanan lebih ekstra. Lagi pula membawa uang dalam jumlah banyak dalam tas ataupun dompet dapat menarik perhatian, yang beresiko mengundang aksi kriminal sehingga bertransaksi cashless relatif lebih aman. 

Namun perlu dipahami juga, secanggih apa pun teknologi yang digunakan pada sistem uang digital tetap saja ada celah yang memungkinkan terjadinya serangan cyber. Ini termasuk pencurian data dengan resiko tinggi kehilangan uang karena data diretas pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.  

Menurut Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia, transaksi digital tentunya sangat diperlukan untuk beradaptasi dengan perubahan di luar sana. "Namun sebaiknya isi saldo pada dompet digital disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak lepas kontrol atas pengelolaan keuangan pribadi karena kunci utamanya bukan pada produk namun bagaimana masyarakat menggunakan dan mengelola uang mereka,” kata Johanna seperti yang disiarkan Grant Thornton. 

Dia pun menyarankan, walau cashless society telah menjadi gaya hidup masa kini, tidak ada salahnya tetap menyiapkan uang tunai untuk kebutuhan-kebutuhan transaksi yang belum tersentuh sistem pembayaran digital. "Ini membuat transaksi menjadi lebih mudah dengan dua pilihan pembayaran tersebut,” kata Johanna.