Warga Muslim dan Yahudi di Jerman Bersama Perangi Antisemitisme

picture-alliance/dpa/M. Kappeler
Sumber :
  • dw

Anti-Semitisme tidak diimpor

Menyusul kedatangan lebih dari satu juta pengungsi sejak 2015 - banyak dari mereka yang Muslim - media Jerman berspekulasi tentang antisemitisme baru, yang "diimpor" dari Suriah dan negara-negara Arab. Hal itu mengkhawatirkan Demirel.

"Hari ini kita harus sangat berhati-hati berbicara tentang antisemitisme Muslim, karena ada juga gelombang gerakan sayap kanan, dan fokus utama mereka adalah sentimen antimuslim," kata Demirel. Sebaliknya, ia ingin mendefinisikan Muslim sebagai mitra dalam perang melawan antisemitisme.

"Sebagai minoritas agama, Muslim dan Yahudi memiliki banyak kesamaan," kata Demirel.

Pada bulan Oktober, sebuah sinagoge diserang di kota Halle, Jerman Timur. Pria bersenjata itu membunuh dua orang setelah gagal memasuki sinagoge. Dia mengaku memiliki motif antimuslim dan antisemitisme.

Ini menandai titik balik, setelah itu "ancaman antisemitisme tidak dapat lagi diabaikan oleh siapa pun," Felix Klein, pejabat pemerintah urusan antisemitisme, mengatakan kepada DW sehari setelah serangan.

"Orang-orang Yahudi tidak boleh digambarkan hanya sebagai korban, seperti orang-orang yang dianiaya, dan kamp konsentrasi tahanan," kata Klein. "Gambar yang menyimpang ini mengubah persepsi terhadap orang Yahudi."

Pentingnya pendidikan

KIgA telah mengembangkan beberapa metode pendidikan, termasuk diskusi dan lokakarya untuk anak-anak sekolah dan guru. Lokakarya ini tidak hanya membahas Holocaust, tetapi juga teori konspirasi kontemporer dan konflik Israel-Palestina.

Hampir 1.800 pelanggaran antisemitisme dilaporkan di seluruh Jerman pada tahun 2018. Ada peningkatan 20?ri tahun sebelumnya. Menurut Portal Penelitian dan Informasi untuk antisemitisme (RIAS), di Berlin, tiap harinya ada dua insiden bermotif antisemitisme yang dilaporkan.

Hampir 30?ri insiden di Berlin terkait dengan kelompok sayap kanan. "Tapi tidak bisa dikatakan dengan mudah, bahwa antisemitisme hanya masalah di antara kaum sayap kanan," Alexander Rasumny, dari pusat penelitian dan pelaporan RIAS, mengatakan kepada DW. Lebih dari 40?ri kasus-kasus tersebut tidak memiliki motif politik yang mudah diidentifikasikan.

"Fakta bahwa ada partai di parlemen Jerman dan parlemen negara bagian setempat yang membawa sikap antisemitisme ke politik mainstream, turut berkontribusi sehingga kebencian jadi hal normal," kata Rasumny, merujuk pada partai AfD. Setelah pemilu 2017, partai AfD meraih 94 kursi di parlemen Jerman, Bundestag.